Minggu, 17 Mei 2020

MERAIH KEUTAMAAN LAILATUL QADR DENGAN MEMPERPANJANG SHALAT


Pertanyaan:
Paling utamanya amalan yang akan kuamalkan dalam mencari Lailatul Qadar apa Ustâdz

Jawaban:
Amalan yang paling utama yang hendak dilakukan oleh seseorang untuk mencari Lailatul Qadr adalah shalat tarâwih dengan cara memanjangkannya, karena Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam berkata:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa menegakkan shalat pada saat Lailatul Qadr dalam keadaan beriman dan mengharapkan pahala maka diampuni baginya apa-apa yang telah lalu dari dosanya." Diriwayatkan oleh Al-Bukhârî dan Muslim dari Abû Hurairah Radhiyallâhu 'Anhu. 

Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhân memperpanjang shalat, yang tentunya shalat beliau di sini dalam keadaan bersendirian, karena shalat tarâwih berjamâ'ah di zaman beliau hanya tiga malam atau beberapa malam saja beliau lakukan. Padahal setiap Ramadhân pada sepuluh malam terakhir beliau masih tetap i'tikaf di masjid, yang tentunya shalat tarâwih beliau tetap lakukan, namun dalam keadaan bersendirian.

Ketika seseorang melakukan shalat tarâwih bersendirian seperti itu maka waktu untuk memanjangkan shalatnya sangatlah memungkinkan baginya daripada dia shalat berjamâ'ah, oleh karena itu Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam berkata:

وَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ

"Jika salah seorang di antara kalian shalat dalam keadaan sendirian maka hendaklah dia memperpanjang sesuai dengan apa yang dia inginkan." Diriwayatkan oleh Al-Bukhârî dari 'Abdullâh bin Yûsuf, dari Mâlik, dari Abud Zinâd, dari Al-A'raj, dari Abû Hurairah Radhiyallâhu 'Anhu.

Memanjangkan shalat di sini bukan pada banyaknya raka’at, karena Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam dalam shalat tarâwih hanya sebelas raka’at, namun diinginkan panjangnya shalat di sini adalah panjang berdirinya, dan shalat sunnah seperti ini yang dikatakan paling utama, Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam berkata:

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُولُ الْقُنُوتِ

"Paling utamanya shalat adalah panjang berdirinya." Diriwayatkan oleh Muslim dari Jâbir bin 'Abdillâh Radhiyallâhu 'Anhumâ.

Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam tidak hanya memanjangkan berdirinya namun sujûdnya juga panjang, Al-Imâm Muslim meriwayatkan dari Hudzaifah Ibnul Yamân Radhiyallâhu 'Anhumâ, beliau berkata tentang shalat lail yang dilakukan oleh Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam:

فَكَانَ سُجُودُهُ قَرِيبًا مِنْ قِيَامِهِ

"Keberadaan sujudnya hampir sama dengan berdirinya."

Karena begitu panjangnya shalat beliau sampai 'Abdullâh bin Mas'ûd Radhiyallâhu 'Anhu yang pernah mencoba ikut shalat lail bersamanya mengatakan:

فَأَطَالَ حَتَّى هَمَمْتُ بِأَمْرِ سَوْءٍ

"Beliau memperpanjang shalat sampai aku berkeinginan dengan sesuatu yang kurang berkenan."
Lalu 'Abdullâh bin Mas'ûd Radhiyallâhu 'Anhu ditanya:

وَمَا هَمَمْتَ بِهِ

"Apa yang engkau inginkan padanya?" Beliau menjawab:

هَمَمْتُ أَنْ أَجْلِسَ وَأَدَعَهُ

"Aku berkeinginan untuk duduk dan meninggalkannya." Diriwayatkan oleh Muslim.

Semoga Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ memberikan taufik kepada kita untuk bisa mendapati Lailatul Qadr dan menghidupkan malamnya dengan shalat, karena sesungguhnya di dalam shalat itu kita membaca Al-Qur’ãn, berdoa dengan berbagai doa dan berdzikir.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada tanggal 22 Ramadhân 1439 di Kemang Pratama Bekasi. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar