Senin, 18 Mei 2020

ANTARA FIDYAH DAN QADHÂ

Pertanyaan:
'Afwân Ustâdz mengganggu waktunya, semoga Allâh menjaga Ustâdz dan keluarga, mau tanya Ustâdz, saya memiliki orang tua (ibu) dan beliau sudah tidak mampu lagi menjalankan puasa dikarenakan penyakit yang dideritanya. 
1. Bolehkah saya sebagai anak membayarkan fidiyah ibu saya? 
2. Kalau boleh berapa ukuran fidyah yang harus ana bayarkan? 
3. Dan bolehkah membayarnya di luar bulan Ramadhân. 
Syukrân wa Jazâkallâhu khairan.

Jawaban:
Ketika beliau sudah tidak sanggup untuk berpuasa karena sakit yang dideritanya dan beliau merasakan sakitnya tidak ada kemungkinan sembuh karena sakit sudah tua misalnya, maka boleh bagimu membayarkan fidyahnya, dalam sehari beliau tidak berpuasa padanya berarti kamu memberi makan seorang miskîn dengan makanan yang dapat mengenyangkannya, ini seperti yang dilakukan oleh Anas bin Mâlik Radhiyallâhu 'Anhu ketika membayar fidyah untuk dirinya sendiri, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhârî secara mu'allaq:

فَقَدْ أَطْعَمَ أَنَسٌ بَعْدَ مَا كَبِرَ عَامًا أَوْ عَامَيْنِ كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِينًا خُبْزًا وَلَحْمًا وَأَفْطَرَ

"Sungguh Anas ketika telah lanjut usia dalam setahun atau dua tahun, beliau memberi makan pada setiap hari kepada seorang miskîn dengan roti dan daging, dalam keadaan beliau tidak berpuasa."

Anas bin Mâlik Radhiyallâhu 'Anhu memilih untuk membayar fidyah di bulan Ramadhân dalam keadaan beliau tidak berpuasa lagi karena usia beliau sudah sangat tua, dan tidak memungkinkan lagi untuk berpuasa atau mengganti puasanya di hari lain di luar Ramadhân. 
Adapun ibumu jika merasa bahwa dirinya masih memungkinkan akan sembuh dari sakitnya maka sebaiknya jangan dibayarkan fidyah sehingga nanti beliau mengganti puasanya pada hari yang lain di luar Ramadhân, berkata Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ:

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِیضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرࣲ فَعِدَّةࣱ مِّنۡ أَیَّامٍ أُخَرَۚ وَعَلَى ٱلَّذِینَ یُطِیقُونَهُۥ فِدۡیَةࣱ طَعَامُ مِسۡكِینࣲ

"Barangsiapa di antara kalian sakit atau sedang safar maka hendaklah dia mengganti puasanya di hari-hari lain, dan wâjib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) untuk membayar fidyah dengan memberi makan seorang miskîn." [Surat Al-Baqarah: 184].

Kalau misal setelah Ramadhân hingga akan memasuki bulan Sya'bân belum sembuh dari sakitnya maka di saat bulan Sya'bân itu kamu bayarkan fidyahnya.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada hari Selasa tanggal 26 Ramadhân 1441 / 19 Mei 2020 di Mutiara Gading Timur Bekasi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar