Minggu, 12 April 2020

BEDA IBNU DAN BIN

Pertanyaan:
Ustâdz apakah ada persamaan antara ibnu dan bin?

Jawaban:
Ibnu dan bin ada persamaan dan ada perbedaan, persamaannya terletak pada maknâ yaitu anak atau putera dan penulisannya langsung setelah nama anak. 
Adapun letak perbedaannya yaitu bin disebutkan di antara nama anak dan nama ayahnya, contoh:

مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 

"Muhammad bin 'Abdillâh Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam."
Adapun ibnu disebutkan di antara nama anak dan nama kakek tanpa menyebutkan nama ayahnya, contoh:

مُحَمَّدُ ابْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Muhammad ibnu 'Abdil Muththalib Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam." Yakni cucu 'Abdul Muththalib.

Ibnu juga disebutkan di antara nama anak dan nama ibunya jika penisbatan anak kepada ibu, contoh:

مُحَمَّدٍ ابْنِ الْحَنَفِيَّةِ

"Muhammad ibnul Hanafiyyah." Yakni Muhammad bin 'Alî bin Abî Thâlib, disebutkan Ibnul Hanafiyyah untuk membedakan dengan anak-anak Fâthimah bintu Muhammad 'Alaihimash Shalâtu was Salâm. 
Penyebutan Ibnu ini ada pula di dalam Al-Qur'ãn:

ذَ ٰ⁠لِكَ عِیسَى ٱبۡنُ مَرۡیَمَ

"Itulah 'Îsâ ibnu Maryam." [Surat Maryam: 34].

Ibnu disebutkan ketika kedudukannya sebagai mubtada', contoh:

ابْنُ حَرمِينَ عَبَّاسٌ 

"Ibnu Harmîn adalah 'Abbâs."
Ibnu disebutkan pula ketika dimudhafkan kepada nama ayah atau nama kakek dengan tanpa menyebutkan namanya, contoh:

قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: الْيَقِينُ الإِيمَانُ كُلُّهُ

"Berkata Ibnu Mas'ûd: Keyakinan itu benar-benar keimanan."
Atau pada perkataan Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam:

أَنَا ابْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبْ

"Aku Ibnu 'Abdil Muththalib."
Ibnu disebutkan pula jika sebelumnya adalah huruf atau dimudhafkan kepada dhamîr, contoh perkataan Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam:

إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ

"Sesungguhnya ibnuku ini adalah sayyid." Yakni Al-Hasan bin 'Alî Radhiyallâhu 'Anhumâ. 
Atau contoh di dalam Al-Qur'ãn: 

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَـٰنُ لِٱبۡنِهِۦ

"Ketika Luqmân berkata kepada ibnunya." [Surat Luqmân: 13]. Yakni puteranya.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada kajian hari Ahad tanggal 18 Sya'bân 1441 / 12 April 2020 di Maktabah Al-Khidhir Bekasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar