Minggu, 12 Juli 2020

SIFAT DUDUK PADA RAKA'AT TERAKHIR


📱 Pertanyaan:
Seringkali kami dapati ada istilah duduk iftirâsy dan duduk tawarruk, mohon dijelaskan bagaimana model keduanya?

📲 Jawaban:
Duduk iftirâsy yaitu duduk di atas kaki kiri dengan menegakan kaki kanan, sedangkan duduk tawarruk yaitu duduk di atas bumi dengan mengedepankan kaki kiri dan menegakan kaki kanan, ini sebagaimana yang dijelaskan di dalam "Shahîh Al-Bukhârî" dari Abû Humaid As-Sâ'îdî Radhiyallâhu 'Anhu:

ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺟَﻠَﺲَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺮَّﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﺟَﻠَﺲَ ﻋَﻠَﻰ ﺭِﺟْﻠِﻪِ ﺍﻟْﻴُﺴْﺮَﻯ ﻭَﻧَﺼَﺐَ ﺍﻟْﻴُﻤْﻨَﻰ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺟَﻠَﺲَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺮَّﻛْﻌَﺔِ ﺍْﻵﺧِﺮَﺓِ ﻗَﺪَّﻡَ ﺭِﺟْﻠَﻪُ ﺍﻟْﻴُﺴْﺮَﻯ ﻭَﻧَﺼَﺐَ ﺍْﻷُﺧْﺮَﻯ ﻭَﻗَﻌَﺪَ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻘْﻌَﺪَﺗِﻪِ

"Apabila beliau Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam duduk pada raka'at kedua maka beliau duduk di atas kakinya yang kiri dan beliau menegakan kakinya yang kanan. Dan apabila beliau duduk pada raka'at terakhir maka beliau mengedepankan kakinya yang kiri dan menegakan yang kanan lalu beliau duduk di atas bumi."

📱 Pertanyaan:
Bagaimana model duduk tasyahhud Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam pada shalat yang hanya dua raka'at? Apakah beliau duduk iftirâsy ataukah tawarruk?

📲 Jawaban:
Untuk memastikan bagaimana sifat duduk Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam pada shalat yang hanya satu raka'at atau yang dua raka'at maka ini tidak bisa langsung dikatakan beliau duduk iftirâsy dan tidak bisa pula langsung dikatakan beliau duduk tawarruk, ini karena dalîl yang ada hanya menunjukan tentang keumumannya, sebagaimana pada hadîts dari Abû Humaid yang tadi kita sebutkan, itu masih berbentuk mutlak lagi umum, masing-masing mazhab yang berselisih menjadikan hadîts tersebut sebagai dalîl. Yang berpendapat dengan iftirâsy pada shalat dua raka'at di samping mereka berdalîl dengan hadîts tersebut maka mereka berdalîl pula dengan hadîts dari 'Abdullâh Ibnuz Zubair Radhiyallâhu 'Anhumâ yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibbân yang dia semakna dengan hadîts dari Wâil bin Hujr yang diriwayatkan oleh An-Nasâ’î:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَلَسَ فِي الرَّكعَتَينِ افتَرَشَ اليُسرَى وَنَصَبَ اليُمنَى

"Keberadaan Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam jika beliau duduk pada dua raka'at maka beliau menghamparkan yang kiri dan beliau menegakan yang kanan."

Bila penyebutan bilangan dua raka'at ini dijadikan sebagai dalîl atau sebagai penetapan hukum mafhûm al-'adad bahwa setiap shalat yang hanya dua raka'at duduknya iftirâsy maka ini adalah pendalilan yang lemah menurut Ahli Ushûl, dan Ibnu Hajar Rahimahullâh menyebutkan di dalam "Fathul Bârî" bahwa makna yang ditunjukan dengan suatu bilangan bukanlah makna yang meyakinkan namun itu hanyalah kemungkinan.
Ketika keberadaannya seperti itu maka tidak bisa dijadikan sebagai dalîl, karena dua alasan:

Pertama:  Bagaimana dengan shalat yang hanya satu raka'at seperti minimal dari shalat witr adalah satu raka'at atau shalat sunnah dilakukan empat raka'at sekaligus dengan sekali salam? Maka tentu tidak masuk pada hadits tersebut.
Kedua: Dalam suatu kaedah disebutkan:

إِذَا وُجِدَ الاِحتِمَالُ بَطَلَ الاِستِدلَالِ

"Jika didapati ada ihtimâl (kemungkinan) maka batallah pendalilan."

Dengan keterangan singkat tersebut tentu akan menimbulkan pertanyaan baru: Lalu mana yang benar dari dua pendapat yang ada? karena tidak mungkin bagi dua orang yang berselisih mesti kedua-duanya benar namun mesti ada yang benar dan ada yang tidak benar. 
Untuk menundukan permasalahan yang ada maka perlu melihat kepada lafazh ar-rak'atu al-akhirah (raka'at yang terakhir) yaitu keberadaannya sebagai raka'at penutup yang setelahnya adalah salâm, sama saja keberadaannya hanya satu raka'at atau dua raka'at atau lebih, kalau dia keberadaannya pada akhir raka'at maka di saat duduk untuk tahiyat dia duduk tawarruk, ini diperjelas dengan hadîts yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibbân:

حَتَّى إِذَا كَانَ فِي السَّجْدَةِ الَّتِي فِيهَا التَّسْلِيمُ أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى، فَقَعَدَ مُتَوَرِّكًا عَلَى شِقِّهِ الأَيْسَرِ

"Sampai ketika keberadaannya pada raka'at yang padanya salam maka beliau mengeluarkan kakinya yang kiri dan beliau duduk dalam keadaan tawarruk di atas sisinya yang kiri."

Dan hadîts yang semakna dengan ini diriwayatkan pula oleh Al-Imâm Ahmad, At-Tirmidzî dan Ibnu Jârûd.
Dari sini dapat kita simpulkan bahwa setiap duduk tasyahud yang setelahnya salam maka dia adalah duduk tawarruk, sama saja keberadaannya satu raka'at, dua raka'at dan tiga raka'at atau pun lebih. Dan pendapat ini yang kami pilih dan kami anggap kuat, yang dia merupakan pendapat Al-Imam Asy-Syâfi'î dan dikuatkan oleh Al-Imâm Ibnu Hazm. Wallâhu A'lam wa Ahkam.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada hari Ahad 2 Muharram 1441 / 1 September 2019 di Maktabah Al-Khidhir Bekasi. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar