Rabu, 15 Juli 2020

HUKUM SHALAWÂTAN MENJELANG ADZÂN


Pertanyaan:
Ustâdz mau tanya, apakah shalawâtan yang dikumandangkan sebelum adzân dengan suara keras semisal adzân itu syar'î atau ada contohnya Ustâdz? Jazâkallâhu khairan.

Jawaban:
Ada berbagai kesalahan pada shalawât tersebut, di antara kesalahannya:

Pertama: Mengucapkannya dengan lantunan seakan-akan adzân serta menyuarakannya dengan suara keras, padahal Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ telah mengajarkan adab yang baik dan sopan dalam menyeru Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam dan juga Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ telah peringatkan:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَرْفَعُوٓا۟ أَصْوَٰتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ ٱلنَّبِىِّ وَلَا تَجْهَرُوا۟ لَهُۥ بِٱلْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَٰلُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ 

"Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian meninggikan suara kalian melebihi suara Nabî, dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebagian kalian terhadap yang lain, yang akan menyebabkan amalan kalian terhapus sedangkan kalian tidak menyadari." (Surat Al-Hujurât: 2).

Kedua: Di dalam shalawât tersebut ada seruan dengan menggunakan dhamîr mukhâthab yaitu pada kata "'Alaika", yang tepatnya ini hanya pada yang berhadapan, seperti ketika berada di hadapan kuburan Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam maka boleh mengucapkan: "Assalâmu 'Alaika..." sebagaimana ketika ziarah ke kuburan kaum Muslimîn disunnahkan mengucapkan: "Assalâmu'alaikum yâ Ahlad Diyâr....". 
Adapun ketika tidak berhadapan maka sungguh telah meletakannya bukan pada tempatnya. 

Ketiga: Di dalam shalawât tersebut ada penyebutan tentang Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam ketika isrâ', bahwasanya beliau maju untuk mengimami shalat, lalu semua yang ada di langit shalat dan Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam menjadi imâm. Tidaklah kami mengetahui ada riwayat yang menyebutkan seperti itu, karena waktu beliau naik ke langit bersama Jibrîl 'Alaihimash Shalâtu was Salâm maka keduanya melewati berbagai langit, setiap langit ada Nabî dan tidak disebutkan bahwa mereka kemudian kumpul berjamâ'ah lalu shalat bersama Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam, tidak pula kami ketahui ada dalîl menerangkan bahwa Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam ketika isrâ' maka para penghuni langit seluruhnya berkumpul lalu membuat shaff untuk shalat berjamâ'ah di belakang beliau. Dengan demikian tidak sepantasnya bagi seseorang menetapkan suatu ketetapan dengan tanpa memastikan kebenarannya atau tanpa mengilmuinya, karena Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ telah peringatkan:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا 

"Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu padanya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. " (Surat Al-Isrâ': 36). 

Keempat: Menjadikan shalawât tersebut sebagai syi'âr menjelang adzân atau sebagai tanda akan masuknya waktu shalat, tentu ini perkara yang diada-adakan di dalam agama yang telah terbantahkan dengan perkataan Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

"Barangsiapa mengada-adakan suatu amalan di dalam perkara agama kami ini yang bukan termasuk darinya maka tertolak." Riwayat Al-Bukhârî dan Muslim. 

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada tanggal 10 Jumâdal Ãkhirah 1439 di di Kemang Pratama 3 Bekasi. 

https://t.me/majaalisalkhidhir/4821
https://t.me/majaalisalkhidhir/1491
⛵️ http://alkhidhir.com/fiqih/shalawat-sebelum-adzan/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar