Sabtu, 01 Februari 2020

VIRUS CORONA ANTARA SIKSAAN DAN COBAAN


📱 Pertanyaan:
Ustâdz bagaimana pandangan Islâm terhadap wabah virus Corona? Apa yang harus dilakukan oleh pemerintah bila salah satu negerinya terserang virus Corona? 

📲  Jawaban:
Virus Corona adalah suatu wabah seperti thâ'ûn yang pernah terjadi di zaman dahulu, Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ timpakan wabah ini atas suatu kaum yang Dia kehendaki, berkata Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam:

الطَّاعُونُ رِجْسٌ أَوْ عَذَابٌ أُرْسِلَ عَلَى طَائِفَةٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَوْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ

"Thâ'ûn adalah wabah mengerikan atau azab yang ditimpakan kepada suatu bangsa dari kalangan Banî Isrâîl atau bangsa sebelum mereka. Jika kalian mendengar wabah itu menimpa suatu negeri maka janganlah kalian masuk ke negeri tersebut dan jika kalian berada di suatu negeri yang tertimpa wabah itu maka janganlah kalian lari keluar darinya." Riwayat Al-Bukhârî (no. 3473) dan Muslim (no. 5903). 

Demikianlah solusi Islâm dalam menghadapi wabah seperti virus Corona ini, di dalam Islâm telah ditetapkan bahwa wabah seperti virus Corona ini termasuk cobaan bagi orang-orang Muslim dan siksaan bagi non Muslim, berkata Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam:

أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، وَأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا، يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ

"Sesungguhnya wabah itu adalah siksaan yang Allâh timpakan kepada siapa yang Dia kehendaki dan bahwasanya Allâh menjadikan wabah itu sebagai rahmat bagi orang-orang beriman, tidaklah seseorang tertimpa wabah itu lalu dia berdiam di negerinya dalam keadaan sabar dan berharap pahala, dia meyakini bahwa wabah itu tidak akan menimpanya kecuali sesuai dengan apa yang telah Allâh tetapkan kepadanya lalu wabah itu menimpanya hingga dia mati maka baginya pahala seperti pahala orang yang mati syahîd." Riwayat Al-Bukhârî (3474).

Adapun yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah mengisolasi negeri yang telah tertimpa wabah itu, orang-orang yang ada di dalamnya dilarang untuk keluar dan yang di luar dilarang untuk masuk. Setiap orang yang berada di negeri tersebut hendaklah bersabar, menjadikan dirinya sebagai Muslim yang memasrahkan diri kepada Allâh, lalu mengharap pahala dan kasih sayang dari Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ, serta selalu berdoa kepada-Nya:

رَبَّنَاۤ ءَامَنَّا بِمَاۤ أَنزَلۡتَ وَٱتَّبَعۡنَا ٱلرَّسُولَ فَٱكۡتُبۡنَا مَعَ ٱلشَّـٰهِدِینَ

"Wahai Rabb kami, kami telah beriman terhadap apa yang telah Engkau turunkan dab kami telah mengikuti Rasûl maka tetapkanlah kami bersama orang-orang yang telah mempersaksikan keberadaan." [Surat Ali 'Imrân: 53]. 

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Ayyadahullâh wa Jammalah pada hari Sabtu tanggal 7 Jumâdal Âkhirah 1441 / 1 Februari 2020 di Mutiara Gading Timur 2 Bekasi.

http://t.me/majaalisalkhidhir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar