Sabtu, 22 Februari 2020

PERJUANGAN ORANG-ORANG YANG BERCELANA DI ATAS MATA KAKI


Jika mereka yang membenci Sunnah cadar dan celana di atas mata kaki itu beralasan tidak sesuai dengan budaya Nusantara maka mereka perlu mengenal dan mengkaji kembali budaya di Nusantara ini. Mereka pasti mengakui bahwa di Nusantara ini paling banyak budayanya, dan sebagian budaya Islâm pun sudah didapati ada di dalamnya. Mereka juga pasti mengakui bahwa yang berjuang membela Tanah Air itu dari berbagai kaum, dari sebelum Indonesia merdeka telah ada para pejuang berjubah, bersurban dan bercelana di atas mata kaki, mereka adalah kaum Padri, mereka ikut dalam perjuangan melawan penjajah, pasukan mereka terdiri dari para santri dan 'Ulamâ, dengan pimpinan Tuanku Imâm Bonjol Rahmatullâh 'Alainâ wa 'Alaihim, isteri-isteri dan putri-putri mereka juga bercadar. 

Perjuangan orang-orang berjubah, bersurban dan bercelana di atas mata kaki tidak berhenti pada perjuangan untuk mendapatkan kemerdekaan saja namun ternyata bersambung pada perjuangan dalam menjaga keutuhan NKRI. Ketika RMS mulai mengibarkan benderanya dan mengobarkan api perlawanannya terhadap NKRI di Ambon dan sekitarnya pada tahun 1999-2002 maka aparat pemerintah tidak bisa bergerak untuk menumpas RMS, karena masih mempertimbangkan jangan sampai terulang kembali seperti kasus Timur-Timur yang digugat dengan pelanggaran HAM. Alhamdulillâh pasukan berjubah, bersurban dan bercelana di atas mata kaki bangkit menyerukan jihâd dengan pimpinan panglima Laskar Jihâd Al-Ustâdz Ja'far 'Umar Thâlib Rahmatullâh 'Alainâ wa 'Alaihim. Aparat pemerintah dari sebagian para petinggi TNI dan POLRI memberikan dukungan, maka tidak heran ketika pasukan berjubah, bersurban dan bercelana di atas mata kaki itu datang ke Ibukota Negara dengan membawa pedang tidak dihambat, padahal jumlah mereka lebih sedikit bila dibandingkan dengan keseluruhan POLRI yang bertugas di Ibukota Negara, mereka dibiarkan membawa pedang, bahkan dibukakan jalan hingga sampai ke tempat yang mereka tuju. 

Demikian pula ketika pasukan itu melakukan latihan di Jawa tidaklah dihalangi bahkan bebas bagi mereka untuk latihan, hingga pemberangkatan ke Ambon dengan menggunakan kapal laut, juga tidak dihalangi, padahal pemerintah memiliki kapal patroli, karena memang ada dari sebagian para petinggi di pemerintahan memberi dukungan dan merespon baik. Alhamdulillâh setelah api RMS padam mereka kembali sebagaimana semula, menuntut ilmu dan terus berdakwah. 

Apakah setelah dirasakan nikmatnya kemerdekaan dan indahnya keutuhan NKRI kemudian kebaikan mereka itu akan dibalas dengan melarang mereka mengamalkan Sunnah dan menampakkan Syi'ar Islâm yang sudah membudaya di Nusantara ini dari puluhan tahun yang lalu?! 

Wahai umat:

وَإِن یَخۡذُلۡكُمۡ فَمَن ذَا ٱلَّذِی یَنصُرُكُم مِّنۢ بَعۡدِهِۦۗ 

"Jika Allâh membiarkan (dengan tidak memberi pertolongan) kepada kalian, maka siapakah gerangan yang dapat menolong kalian selain dari Allâh sesudah itu?! ." [Surat Âli 'Imrân: 160].

Fâidah dari Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir di Mutiara Gading Timur 2 Bekasi pada hari Selasa 8 Rabî'ul Awwal 1441 / 5 November 2019. 

⛵️ http://t.me/majaalisalkhidhir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar