Kamis, 26 Maret 2020

MENAHAN BERITA YANG MEMBUAT KEPANIKAN BERLEBIHAN


Hendaklah setiap orang berhati-hati terhadap berita yang tersebar, banyak orang yang bertambah rasa panik dan deritanya disebabkan oleh berita. Kita nasehatkan bagi yang mengetahui berita meskipun itu benar tapi kalau akan menimbulkan kepanikan yang berlebihan kepada masyarakat maka hendaklah menahan berita tersebut, jangan bergampangan menyebarkannya, syukurlah kalau masyarakat dalam menghadapi berita yang membuat panik mereka dapat langsung menyerahkan kepada Ulil Amri ('Ulamâ dan 'Umarâ) sebagai pengamalan terhadap perkataan Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ: 

وَإِذَا جَاۤءَهُمۡ أَمۡرࣱ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُوا۟ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰۤ أُو۟لِی ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِینَ یَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗ 

"Apabila datang kepada mereka suatu perkara berupa keamanaan atau ketakutan maka mereka menyebarkannya, kalau mereka mengembalikannya kepada Rasûl dan kepada Ulil Amri di antara mereka tentu orang-orang yang mengetahui kebenaran akan mengetahuinya dari Rasûl dan Ulil Amri." [Surat An-Nisâ': 83]. 
Selain berita yang kita khawatirkan, adanya upaya menakut-nakuti secara berlebihan sampai terkadang kita melihat orang membebani diri secara berlebihan, dia mengharuskan diri menetap di dalam rumah dalam keadaan bagaimanapun, kalau ingin keluar dari rumah karena kebutuhan maka ditakut-takuti sebagai orang yang jelas berdosa karena tidak taat kepada Ulil Amri atau sampai ditakuti-takuti akan menjadi khawârijlah karena tidak taat kepada Ulil Amri, padahal dia memiliki kebutuhan di luar rumahnya, akhirnya dia benar-benar berdiam di dalam rumah dengan siap mengambil resiko kelaparan atau bahkan terkena wabah pun siap tetap di dalam rumahnya, syukur-syukur kalau aparat pemerintah dapat memantau setiap rumah, tapi kalau tidak maka apa jadinya. Padahal pemerintah masih memberi kelonggaran bagi yang memiliki kebutuhan untuk keluar yang terpenting menjaga jarak, namun kelonggaran ini diabaikan seakan-akan tidak ada kelonggaran lagi, sehingga harus benar-benar berdiam di dalam rumah.

Demikian pula upaya menakut-nakuti dengan adanya penanggulangan virus Corona berupa menyiapkan makanan sebagai anti virus Corona, Subhânallâh, kemarin malam tepatnya malam Kamis tanggal 1 Sya'bân 1441 / 26 Maret 2020, kami ditelpon tiba-tiba sekitar jam 01 malam WIB, yang telpon dari Maluku, dan kami tidak mengetahui kalau ada telpon. Pagi harinya kami ditelpon lagi bahwa tadi malam ada pengumuman dadakan, sebelum jam 12 malam harus makan telur dan bawang, kalau tidak nanti akan terkena virus Corona. Subhânallâh sampai dari berbagai kampung berdatangan ke Limboro mencari telur, penghuni rumah bangun, dan saling membangunkan, yang lainnya juga mengetuk pintu rumah tetangga, hingga bangun kebanyakan penduduk kampung, mereka benar-benar panik, katanya harus makan telur dan bawang, kalau tidak maka akan terkena wabah. Hingga katanya dan katanya membuat mereka benar-benar panik, katanya telpon dari Ambon ada himbauan begitu dan begitu. Sebagian lagi katakan harus bakar kulit luar kelapa sebanyak tujuh, kalau tidak wabah akan datang. Lâ Ilaha Illallâh benar-benar wabah Wahn yang mengenai mereka, belum wabah virus Corona yang pertama kali mengenai Wuhan. 

Alhamdulillâh yang telpon seorang ibu yang dahulu biasa mengikuti kajian dan dakwah kami selama di Limboro, beliau mencoba menelpon supaya mendapatkan jawaban dan nasehat sehingga bisa menyadarkan yang lainnya.

Subhânallâh di negeri sana belum ada laporan ada yang terkena wabah, yang ada di Ambon namun mereka sudah luar biasa paniknya, kita khawatirkan kalau ada yang menakut-nakuti bahwa shalat berjamâ'ah di masjid menyebabkan datangnya virus Corona, keadaan mayoritas penduduk di sana dari dulu jarang melaksanakan shalat berjamâ'ah bagaimana bila shalat berjamâ'ah dijadikan isu penyebab datangnya virus Corona di negeri mereka yang belum terkena wabah itu? Hasbunallâhu Wani'mal Wakîl Lâ Haula wa Lâ Quwwata Illâ Billâh.

Nasehat Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada hari Kamis tanggal 1 Sya'bân 1441 / 26 Maret 2020 di Mutiara Gading Timur Bekasi.

https://youtu.be/-C9CeIsEArw

http://t.me/majaalisalkhidhir


Tidak ada komentar:

Posting Komentar