✉️ Pertanyaan:
Ustâdz tolong jelaskan etika bertanya supaya saya dalam bertanya tidak sia-sia? Sebab sudah banyak orang ingin menergelincirkan orang yang ditanya dengan cara melontarkan pertanyaan kepadanya, mohon nasehatnya!
📩 Jawaban:
Bertanyalah kamu karena sebab tidak tahu, sehingga kamu mendapatkan dua kebaikan, yaitu mendapatkan fâidah dan mendapatkan pahala karena telah mengamalkan perintah:
ﻓَﺎﺳْﺄَﻟُﻮﺍ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ
"Bertanyalah kalian kepada orang-orang berilmu jika kalian tidak mengetahui". (An-Nahl: 43).
Dan janganlah kamu bertanya karena sebab mencari kelemahan atau untuk mendebati, sehingga kamu tidak mendapatkan kejelekan, Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam berkata:
ﻣَﺎ ﺿَﻞَّ ﻗَﻮْﻡٌ ﺑَﻌْﺪَ ﻫُﺪًﻯ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺇِﻟَّﺎ ﺃُﻭﺗُﻮﺍ ﺍﻟْﺠَﺪَﻝَ ﺛُﻢَّ ﺗَﻠَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﺂﻳَﺔَ: ﻣَﺎ ﺿَﺮَﺑُﻮﻩُ ﻟَﻚَ ﺇِﻟَّﺎ ﺟَﺪَﻟًﺎ ﺑَﻞْ ﻫُﻢْ ﻗَﻮْﻡٌ ﺧَﺼِﻤُﻮﻥَ
“Tidaklah suatu kaum tersesat setelah keberadaan mereka berada di atas petunjuk kecuali karena mereka melakukan perdebatan”. Kemudian beliau membaca ayat ini: “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud berdebat saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar”. (Az-Zukhruf: 58).
Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada tanggal 9 Dzulhijjah 1438 di Binagriya Pekalongan.
👑 https://t.me/majaalisalkhidhir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar