Sabtu, 04 Juli 2020

KRITIK TERHADAP PEMUTLAKAN VONIS KHAWÂRIJ


Pertanyaan:
Ustâdz, apakah setiap orang atau kelompok menyelisihi pemerintah berarti telah jadi khawârij, karena jaman sekarang sedikit sedikit orang atau kelompok selisihi pemerintah dan 'ulamâ pemerintah langsung dijatuhi vonis khawârij, dicap mereka khawârij, dibilang anjing-anjing neraka? Mohon pengarahannya bersama sebutkan dalîlnya.

Jawaban:
Jika setiap orang yang menyelisihi pemerintah dimutlakkan termasuk khawârij maka bagaimana dengan Abû 'Ubaidah bin Jarrâh Radhiyallâhu 'Anhu yang beliau telah menyelisihi Amîrul Mu'minîn 'Umar Ibnul Khaththâb Radhiyallâhu 'Anhu? 
Ini bukan hanya dugaan kita mengatakan Shahabat yang mulia Abû 'Ubaidah menyelisihi Amîrul Mu'minîn 'Umar Radhiyallâhu 'Anhumâ, namun Amîrul Mu'minîn 'Umar mengakui sendiri penyelisihannya terhadap diri beliau, beliau berkata kepadanya:

لَوْ غَيْرُكَ قَالَهَا يَا أَبَا عُبَيْدَةَ

"Kalaulah bukan engkau yang mengatakannya wahai Abû 'Ubaidah." Riwayat Al-Bukhârî dan Muslim. 
Bahkan di dalam riwayat Muslim diperjelas oleh 'Abdullâh bin 'Abbâs Radhiyallâhu 'Anhumâ:

وَكَانَ عُمَرُ يَكْرَهُ خِلاَفَهُ

"Keberadaan 'Umar membenci penyelisihan terhadap dirinya."
Beliau tidak suka untuk diselisihi, dan Abû 'Ubaidah Ibnul Jarrâh tidak hanya menyelisihi Amîrul Mu'minîn dalam argumen atau beda pendapat namun beliau juga menyelisihi dalam sikap, tatkala Amîrul Mu'minîn telah menyampaikan pesan kepadanya sebagai bentuk kecintaan kepadanya:

إِذَا وَصَلَكَ خِطَابِي فِي الْمَسَاءِ فَقَدْ عَزَمْتُ عَلَيكَ أَلَّا تُصْبِحُ إِلَّا مُتَوَجِّهًا إِلَيَّ، وَإِذَا وَصَلَكَ فِي الصَّبَاحِ أَلَّا تُمْسِي إِلَّا مُتَوَجِّهًا إِلَيَّ، فَإِنَّ لِي حَاجَةً إِلَيكَ

"Jika sampai kepadamu pesanku di waktu sore maka sungguh aku mengharuskan atasmu untuk tidak menunggu pagi kecuali engkau bersegera menghadap kepadaku, jika sampai kepadamu pesanku di waktu pagi maka janganlah engkau menunggu di waktu sore kecuali engkau bersegera menghadap kepadaku, karena sesungguhnya aku membutuhkankmu." 
Abû 'Ubaidah Ibnul Jarrâh Radhiyallâhu 'Anhu tidak memenuhi pesan Amîrul Mu'minîn Radhiyallâhu 'Anhu, bahkan dengan jelas beliau katakan di dalam balasan pesannya:

لَقَدْ وَصَلَنِي خِطَابُكَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ وَعَرَفْتُ قَصْدَكَ، وَإِنَّمَا أَنَا فِي جُنْدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ يُصِيبُنِي مَا أَصَابَهُمْ، فَحَلِّلْنِي مِنَ عَزْمَتِكَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنينَ

"Sungguh telah sampai kepadaku pesanmu wahai Amîrul Mu'minîn, aku telah mengetahui maksudmu, hanya saja aku di dalam pasukan dari kalangan kaum Muslimîn, musîbah akan menimpaku sebagaimana akan menimpa mereka, maka longgarkanlah aku dari pengharusanmu wahai Amîrul Mu'minîn."

Tidak ada dari para Shahabat mencela Abû 'Ubaidah Ibnul Jarrâh Radhiyallâhu 'Anhum, demikian pula Amîrul Mu'minîn tidak mencela beliau, bahkan Amîrul Mu'minîn 'Umar menangis setelah mendapatkan balasan pesan darinya. 
Tatkala musîbah menimpa Abû 'Ubaidah dan para Shahabatnya Radhiyallâhu 'Anhum maka tidaklah dikatakan bahwa mereka mati dalam keadaan berdosa, tidak pula dikatakan mati sejelek-sejelek makhluk di bawa kolong langit, dan tidak pula dianggap mati jâhiliyyah, bahkan mereka mendapatkan keutamaan mati yang disebutkan pada keumuman perkataan Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam:

الطَّاعُونُ شَهَادَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

"Wabah thâ'ûn adalah mati syahîd bagi setiap muslim." Riwayat Al-Bukhârî.

Ini di antara suatu penyelisihan seorang Shahabat terhadap pemerintahnya yang jelas dan murni memerintah atas kedaulatan Islâm, membangun dan membela negara atas dasar tauhîd dan Islâm, negara diatur tanpa campur tangan hukum asing dan tekanan negara lain, demikian pula di zaman setelah beliau juga banyak kejadian, di zaman Tâbi'în, di zaman Atbâ'ut Tâbi'în, di antaranya penyelisihan Ahmad bin Hanbal terhadap pemerintah dan para ulamâ pemerintah, di zaman setelahnya dan setelahnya, di zaman Ahmad Al-Harrânî dan juga di zaman lainnya.

Oleh karena itu ketika memutlakkan hukum setiap orang menyelisihi pemerintah dianggap termasuk khawârij maka itu merupakan penghukuman yang salah, karena itu memerlukan adanya perincian dan burhân, sebagaimana ketika mengkafirkan pemerintah muslim harus merinci dan memiliki burhân seperti yang dikatakan di dalam suatu hadîts:

إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا، عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

"Kecuali jika kalian melihat kekafiran nyata yang kalian memiliki bukti padanya dari Allâh." Riwayat Al-Bukhârî.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada malam Ahad tanggal 14 Dzulqa'dah 1441 / 5 Juli 2020 di Maktabah Al-Khidhir Bekasi.

⛵️ http://alkhidhir.com/aqidah/kritik-terhadap-pemutlakan-vonis-khawarij/

Jumat, 03 Juli 2020

LOGO AL-KHIDHIR.BLOGSPOT.COM


Berkata Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

"Sampaikanlah oleh kalian dariku walaupun hanya satu dalîl." Riwayat Al-Bukhârî (3461).

https://t.me/majaalisalkhidhir/4773

DOA UNTUK ORANG YANG SAKIT


Pertanyaan:
Ketika kita menjenguk orang sakit, doa apa yang hendak kita ucapkan? 

Jawaban:
Doa yang hendak kita ucapkan ketika kita menjenguk orang sakit adalah:

لاَ بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللّٰهُ

"Tidak mengapa, sakitmu ini membuat dosamu bersih Insyâ Allâh." 
Ini seperti yang diriwayatkan oleh Al-Bukhârî di dalam "Shahîh"nya dari 'Abdullâh bin 'Abbâs Radhiyallâhu 'Anhumâ:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى أَعْرَابِيٍّ يَعُودُهُ قَالَ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ عَلَى مَرِيضٍ يَعُودُهُ قَالَ لاَ بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ، فَقَالَ لَهُ: لاَ بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

"Bahwasanya Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam masuk menemui seorang Arab Badui, beliau menjenguknya, dan Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam jika menjenguk orang sakit, beliau masuk menemuinya maka beliau mengucapkan: "Tidak mengapa, sakitmu ini membuat dosamu bersih Insyâ Allâh." 
Dan juga hendaklah kita mendoakan orang sakit jika kita menjenguknya, kita doakan dengan doa:

أَسْأَلُ اللَٰهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ

Aku memohon kepada Allâh Al-'Azhîm (Yang Maha Agung), Rabb pemilik 'Arsy yang besar supaya Dia menyembuhkanmu." Riwayat Abû Dâwud dan At-Tirmidzî. 

Atau membacakan doa seperti yang diucapkan oleh Jibrîl 'Alaihish Shalâtu was Salâm sebagaimana disebutkan oleh 'Âisyah Radhiyallâhu 'Anhâ:

كَانَ إِذَا اشْتَكَى رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَقَاهُ جِبْرِيلُ قَالَ بِاسْمِ اللّٰهِ يُبْرِيكَ وَمِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيكَ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ وَشَرِّ كُلِّ ذِي عَيْنٍ

"Dahulu ketika Rasûlullâh Shallallâhu Alaihi wa Sallam merasakan sakit maka Jibrîl meruqyahya, Jibrîl mengucapkan: "Dengan nama Allâh, Dia akan menyembuhkanmu dan terhadap setiap penyakit Allâh akan menyembuhkanmu, dari kejelekan orang hasad jika dia hasad dan dari kejelekan setiap yang memiliki pandangan kedengkian." Riwayat Muslim. 

Pertanyaan:
Ustâdz kalau keadaan pasien tidak sadar dan di tempat tidurnya penuh dengan alat bantu, apa yang harus kita perbuat? 

Jawaban:
Yang kita perbuat hendaklah mendoakannya:

لاَ بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللّٰهُ

"Tidak mengapa, sakitmu ini membuat dosamu bersih Insyâ Allâh."
Kemudian hendaklah kita mendoakan kekokohan kepadanya, mudah-mudahan beliau dipermudah untuk selalu mengucapkan Lâ Ilaha Ilallâh, dan semoga dikokohkan dengan ucapan Lâ Ilaha Ilallâh. Kita berharap semoga beliau masuk ke dalam golongan orang-orang beriman yang disebutkan di dalam ayat:

یُثَبِّتُ ٱللّٰهُ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ بِٱلۡقَوۡلِ ٱلثَّابِتِ فِی ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَا وَفِی ٱلۡـَٔاخِرَةِ

"Allâh akan mengokohkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang mengokohkan di kehidupan dunia dan di akhirat." [Surat Ibrâhîm: 27].
Di kehidupan dunia masuk di dalamnya kekokohan mengucapkan Lâ Ilaha Ilallâh sebelum wafat, dan di kehidupan akhirat yaitu dikokohkan dalam menghadapi fitnah di dalam kubur.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada malam Jum'at tanggal 12 Dzulqa'dah 1441 / 3 Juli 2020 di Maktabah Al-Khidhir Bekasi.

⛵️ http://alkhidhir.com/tanya-jawab/doa-untuk-orang-yang-sakit/
⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/4767


SUNNATULLÂH TIDAK AKAN PERNAH BERUBAH


Sekokoh apapun persatuan dan sekuat bagaimanapun kerjasama tapi kalau di dalamnya terkandung unsur kezhaliman terhadap orang shâlih dan terdapat kebencian kepadanya maka persatuan dan kerjasama itu akan berubah sedikit demi sedikit menjadi perpecahan dan perlawanan:

وَلَا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيلًا

"Kamu tidak akan dapati ada perubahan terhadap Sunnatullâh." [Surat Al-Isrâ': 77].

Fâidah dari tanya jawab bersama:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada malam Sabtu 20 Jumâdil Awwâl 1440 / 26 Januari 2019 di Kemang Pratama 3 Bekasi.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/2501
⛵️  http://alkhidhir.com/aqidah/sunnatullah-tidak-akan-pernah-berubah/

PENTINGNYA MEMPELAJARI ILMU BAHASA 'ARAB


Pertanyaan:
Ustâdz apa hukumnya meremehkan ilmu bahasa 'Arab seperti ilmu nahwu?

Jawaban:
Tidaklah pantas bagi orang yang menginginkan kebaikan untuk meremehkan ilmu bahasa 'Arab, karena bahasa 'Arab merupakan bahasa Al-Qur'ãn, dan Allâh Tabâraka wa Ta'âlâ telah membedakannya dengan bahasa selainnya:

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ ۗ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ 

"Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: Bahwasanya Al-Qur'ãn itu hanya diajarkan oleh seorang manusia kepada Nabî. Bahasa orang yang mereka tuduhkan kepadanya adalah bahasa 'Ajam, padahal Al-Qur'ãn ini adalah bahasa 'Arab yang jelas." [Surat An-Nahl: 103].

Ikhwânî Fiddîn Rahimahumullâh, kita bersyukur kepad Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ karena kita hidup di zaman ini telah banyak para pengajar bahasa 'Arab dan juga telah banyak kitab-kitab bahasa 'Arab, berbeda dengan zaman dahulu yang membuat Ahlul 'Ilmi mempelajari ilmu bahasa 'Arab bertahun-tahun karena belum tersusun sebagaimana di zaman setelahnya, bahkan dahulu mereka melakukan rihlah untuk mempelajari bahasa 'Arab.

Ada suatu kisah masyhûr yang cukup menarik, pernah di zaman Khalîfah Hârûn Ar-Rasyîd Rahmatullah 'Alaih terjadi dialog antara dua orang dari kalangan Ahlul 'Ilmi, yaitu Al-Kisâ'î dan Abû Yûsuf Rahmatullâh 'Alaihimâ.
Al-Kisâ'î adalah salah seorang pakar ilmu nahwu sementara Abû Yûsuf salah seorang dari murid Abû Hanîfah yang terkenal sebagai pakar fikih dan penyebar mazhab Abû Hanîfah, Abû Yûsuf berpendapat:

 ﺃَﻥَّ ﻋِﻠْﻢَ ﺍﻟْﻔِﻘْﻪِ ﺃَﻭْﻟَﻰ ﻣِﻦْ ﻋِﻠْﻢِ ﺍﻟﻨَّﺤْﻮِ ﺑِﺎﻟْﺒَﺤْﺚِ ﻭَﺍﻟﺪِّﺭَﺍﺳَﺔِ، ﻭَﺃَﻥَّ ﻋِﻠْﻢَ ﺍﻟﻨَّﺤْﻮِ لَا ﻳَﺴْﺘَﺤِﻖُّ ﺑَﺬْﻝُ ﺍﻟْﻮَﻗْﺖِ ﻓِﻲ ﻃَﻠَﺒِﻪِ

"Bahwasanya ilmu fikih lebih utama untuk dituntut dan dipelajari daripada ilmu nahwu, dan bahwasanya ilmu nahwu tidak layak meluangkan waktu untuk menuntutnya."
Maka Al-Kisâ'î ingin memahamkannya tentang betapa pentingnya ilmu nahwu, diapun berkata kepada Khalîfah Hârûn Ar-Rasyîd:

ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟْﻘَﺎﺿِﻲ ﻟَﻮْ ﻗَﺪَّﻣْﺖُ ﻟَﻚَ ﺭَﺟُﻠَﻴْﻦِ، ﻭَﻗُﻠْﺖُ ﻟَﻚَ: ﻫَﺬَﺍ ﻗَﺎﺗِﻞُ غُلَاﻣِﻚَ، ﻭَﻫَﺬَﺍ ﻗَﺎﺗِﻞٌ غُلَاﻣَﻚَ. ﻓَﺄَﻳُّﻬُﻤَﺎ ﺗَﺄْﺧُﺬُ

"Wahai Qâdhî, kalau aku hadapkan kepadamu dua orang lalu aku katakan kepadamu:

ﻫَﺬَﺍ ﻗَﺎﺗِﻞُ غُلَاﻣِﻚَ، ﻭَﻫَﺬَﺍ ﻗَﺎﺗِﻞٌ غُلَاﻣَﻚَ

Maka mana yang akan kamu berikan hukuman dari keduanya?."

Al-Kisâ'î bertanya kepada Abû Yûsuf dan Khalîfah Hârûn Ar-Rasyîd:

ﻓَﺄَﻱُّ ﺍﻟﺮَّﺟُﻠَﻴْﻦِ ﺳَﻴَﺄْﺧُﺬُﻩُ ﺍﻟْﻘَﺎﺿِﻲ ﺑِﺎﻟْﻌُﻘُﻮْﺑَﺔِ ﻭَﻳُﻘِﻴْﻢُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟْﺤَﺪَّ

"Siapa di antara dua orang itu yang akan diberikan hukuman oleh Qâdhî dan akan ditegakkan hukuman kepadanya."
Abû Yûsuf menjawab:

ﺁﺧِﺬُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻠَﻴْﻦِ

"Menghukum keduanya."
Khalîfah Hârûn Ar-Rasyîd menjawab:

ﺑَﻞْ ﺗَﺄْﺧُﺬُ ﺍلْأَﻭَّﻝَ لِأَﻧَّﻪُ ﻗَﺘَﻞَ، ﺃَﻣَّﺎ ﺍلْآﺧَﺮُ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻟَﻢْ ﻳَﻘْﺘُﻞْ

"Bahkan kamu hukum yang bertama, karena sesungguhnya dia telah membunuh, adapun yang kedua maka dia belum membunuh."
Maka Abû Yûsuf terheran, kemudian Al-Kisâ'î memahamkannya:

ﺃَﻥَّ ﺍﺳْﻢَ ﺍﻟْﻔَﺎﻋِﻞِ ﺇِﺫَﺍ ﺃُﺿِﻴْﻒَ ﺇِﻟَﻰ ﻣَﻌْﻤُﻮْﻟِﻪِ ‏(ﻗَﺎﺗِﻞُ ﻏُﻼَﻣِﻚَ) ﺩَﻝَّ عَلَى ﺍﻟْﻤَﺎﺿِﻲ ﻓَﻬُﻮَ ﻗَﺘْﻞُ ﺍﻟْﻐُﻼَﻡِ. ﺃَﻣَّﺎ ﺇِﺫَﺍ ﻧُﻮِّﻥَ ﻓَﻨُﺼِﺐَ ﻣَﻌْﻤُﻮْﻟُﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻧَّﻪ ﻣَﻔْﻌُﻮْﻝٌ ﺑِﻪِ ‏(ﻗَﺎﺗِﻞٌ ﻏُﻼَﻣَﻚَ) ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻳُﻔِﻴْﺪُ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻘْﺒَﻞَ ﺃَﻱ ﺃَﻧَّﻪُ ﺳَﻴَﻘْﺘُﻞُ

"Bahwasanya isim fâ'il jika disandarkan kepada ma'mûlnya ‏ﻗَﺎﺗِﻞُ ﻏُﻼَﻣِﻚَ maka menunjukkan atas mahdî, yaitu dia telah membunuh budak. Adapun jika ditanwin lalu dinashab ma'mûlnya ‏ﻗَﺎﺗِﻞٌ ﻏُﻼَﻣَﻚَ maka sesungguhnya itu menunjukkan atas waktu yang akan datang."
Yaitu belum membunuh.

Dengan penjelasan tersebut membuat Abû Yûsuf meminta udzur lalu dia menetapkan tentang pentingnya ilmu nahwu dan dia pun tidak lagi merendahkan ilmu nahwu selama-lamanya.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada malam Sabtu 20 Jumâdil Awwal 1440 / 26 Januari 2019 di Kemang Pratama 3 Bekasi.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/2503
⛵️ http://alkhidhir.com/muqodimah/pentingnya-mempelajari-ilmu-bahasa-arab/

Rabu, 01 Juli 2020

MENJAWAB SALÂM ORANG-ORANG KÂFIR


Pertanyaan:
Bagaimana menjawab salâm orang-orang kâfir?

Jawaban:
Menjawab salâm orang-orang kâfir hanya dengan ucapan Wa'alaikum, tidak lebih dari itu, sama saja mereka mengucapkan Assalâmu'alaikum saja atau mengucapkan lengkap Assalâmu'alaikum Warahmatullâhi Wabarakâtuh, tetap jawabannya hanya Wa'alaikum, karena Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam telah katakan:

إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ

"Jika Ahlul Kitâb mengucapkan salam kepada kalian maka ucapkanlah: "Wa'alaikum." Riwayat Al-Bukhârî (no. 6258) dan Muslim (no. 5780). 
Seorang muslim hendaklah mencukupkan dengan jawaban Wa'alaikum atas salâmnya orang-orang kâfir, ini yang benarnya, karena beberapa alasan:

1) Tidak kita ketahui ada riwayat sharîh menyebutkan bahwa Nabî dan para Shahabat 'Alaihimush Shalâtu was Salâm menjawab salâm orang-orang kâfir dengan jawaban lebih baik atau lebih sempurna yang melebihi jawaban Wa'alaikum. Jawaban atas salâm orang-orang kâfir hanya dengan Wa'alaikum, sama saja mereka ucapkan salâm dengan sebenarnya atau mereka merubah makna salâm dengan mengucapkan Assâmu'alaikum (semoga kematian atas kalian) maka jawabannya tetap sama Wa'alaikum, berkata Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam:

إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمُ الْيَهُودُ فَإِنَّمَا يَقُولُ أَحَدُهُمُ السَّامُ عَلَيْكَ، فَقُلْ وَعَلَيْكَ

"Jika orang-orang Yahûdî mengucapkan salâm kepada kalian, sesungguhnya di antara mereka mengucapkan Assâmu'alaik maka jawablah Wa'alaik." Riwayat Al-Bukhârî (no. 6257) dan Muslim (no. 5782). 

2) Jawaban salâm yang semisal atau yang lebih baik itu khusus bagi orang-orang mu'min yang mengucapkan salâm, ini yang diamalkan oleh Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam tatkala datang Abû Dzar Al-Ghifârî Radhiyallâhu 'Anhu dalam keadaan beriman kepada beliau, berkata Abû Dzarr Radhiyallâhu 'Annâ wa Anhu:

فَكُنْتُ أَنَا أَوَّلُ مَنْ حَيَّاهُ بِتَحِيَّةِ الإِسْلاَمِ، فَقُلْتُ: السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَقَالَ: وَعَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللَّهِ

"Keberadaanku adalah orang pertama yang disambut dengan salâm di dalam Islâm, aku ucapkan: Assalâmu'alaika yâ Rasûlallâh. Beliau menjawab: "Wa'alaika Warahmatullâh." Riwayat Muslim (no. 6513). 

3) Menjawab salâm orang-orang kâfir dengan semisal atau dengan yang lebih baik itu termasuk dari bentuk mendoakan mereka, jika menjawab salâm mereka hanya dengan mengucapkan Wa'alaikumussalâm berarti mendoakan keselamatan untuk mereka, jika menjawab sempurna Wa'alaikumussalâm Warahmatullâhi Wabarakâtuh berarti mendoakan selamat, rahmat dan berkah untuk mereka, tentu ini tidak pantas untuk mereka. Doa rahmat saja tidak diucapkan oleh Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam untuk orang-orang kâfir, apalagi melebihkan dengan doa selamat dan berkah, berkata Abû Mûsâ Al-Asy'arî Radhiyallâhu 'Anhu:

كَانَ الْيَهُودُ يَتَعَاطَسُونَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُونَ أَنْ يَقُولَ لَهُمْ يَرْحَمُكُمُ اللّٰهُ، فَيَقُولُ: يَهْدِيكُمُ اللّٰهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ

"Dahulu orang-orang Yahûdî bersin di samping Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam, mereka mengharapkan supaya beliau mendoakan: "Semoga Allâh merahmati kalian" Namun beliau hanya mengucapkan: "Semoga Allâh memberikan hidayah kepada kalian dan memperbaiki keadaan kalian." Riwayat At-Tirmidzî (no. 2739) dan Abû Dâwud (no. 5038).

Demikian pula orang-orang Yahûdî dan orang-orang kâfir lainnya mengucapkan salâm supaya dijawab, akan tetapi Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam telah mencukupkan dengan jawaban Wa'alaikum. Hendaklah kita beramal sesuai dengan dalîl yang sampai kepada kita, dengan tanpa menambah dan tanpa mengurangi, sungguh bagus apa yang dikatakan oleh Sa'îd bin Jubair Rahmatullâh 'Alainâ wa 'Alaih:

قَدْ أَحْسَنَ مَنِ انْتَهَى إِلَى مَا سَمِعَ

"Sungguh betapa baik orang yang beramal dengan dalîl yang telah dia dengar." Riwayat Muslim (no. 549).

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada hari Kamis tanggal 11 Dzulqa'dah 1441 / 2 Juli 2020 di Maktabah Al-Khidhir Bekasi.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/4763
⛵️ http://alkhidhir.com/aqidah/menjawab-salam-orang-orang-kafir/

NASEHAT PENGINGAT


Alhamdulillâh dakwah tetap berjalan, orang yang ingin datang ke majlis kita mudah-mudahan atas dasar kesadaran dan keinginan untuk mau belajar bersama dengan kita, bukan karena disuruh orang, bukan pula karena diberi rekomendasi oleh orang lain, sehingga dengan kesadaran dan keinginannya itu dia menyadari serta dapat memaklumi bila ada kekurangan atau ada ketidakpuasan dalam belajar bersama kita. 
Alhamdulillâh kita diberi amanah oleh Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ untuk berdakwah, untuk mengajarkan ilmu dan untuk memberikan bimbingan, sejatinya kita hanyalah sebagai para penuntut ilmu, kita sama-sama belajar dan saling berbagi faedah. Apabila kita keliru dalam berucap atau salah dalam suatu perkara maka di antara yang hadir sedangkan dia memiliki ilmu tentang perkara tersebut bergegas menyampaikan pendapatnya sesuai dengan apa yang diketahuinya, tidak hanya dalam perkara ilmu namun pada perkara amalanpun demikian, ini yang telah dicontohkan oleh Rasûlullâh dan para Shahabatnya 'Alaihimush Shalâtu was Salâm, suatu ketika Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam shalat 'ashar dua raka’at maka Dzul Yadain bertanya kepada beliau:

نَسِيتَ أَم قَصُرَتْ

"Apakah engkau lupa ataukah diqashar." 
Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam menjawab:

لَم أَنسَ وَلَم تُقصَرْ

"Aku tidak lupa dan tidak pula diqashar". 
Maka Dzul Yadain berkata kepada beliau:

بَل قَد نَسِيتَ

"Bahkan sungguh engkau telah lupa." 
Karena beliau tidak menyadari akan perkara tersebut, beliaupun bertanya kepada para shahabat yang lainnya, ternyata merekapun mengatakan seperti yang dikatakan oleh Dzul Yadain, mereka katakan:

بَلْ نَسِيتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ

"Bahkan engkau telah lupa wahai Rasûlullâh".
Beliau tidak langsung menerima apa yang disampaikan oleh Dzul Yadain namun beliau memastikan terlebih dahulu, disebutkan di dalam suatu riwayat:

وَلَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَقَّنَهُ اللّٰهُ تَعَالَى ذٰلِكَ

"Beliau tidak sujûd sahwi sampai Allâh menjadikannya yakin tentang apa yang terlupakan."
Setelah benar-benar yakin baru beliau menambah dua raka'at lalu sujûd sahwi. 
Kitapun mengikuti bimbingan tersebut, kalau ada yang memberi nasehat atau sampai menghujat kita maka kita tidak langsung ikuti, namun kita membutuhkan kejelasan dan keterangan hingga kita benar-benar yakin, karena kita beragama atas dasar keyakinan bukan atas dasar keragu-raguan atau ikut-ikutan, oleh karena itu berkata 'Abdullâh bin Mas'ûd Radhiyallâhu 'Anhu:

الْيَقِينُ الإِيمَانُ كُلُّهُ

"Keyakinan adalah keimanan seluruhnya."

Keberadaan kita di sini bukanlah mengajak manusia untuk menjadi pengikut kita, namun kita hanyalah sebagai pengikut Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam yang senantiasa kita berupaya untuk menjadi pengikut setia beliau hingga Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ mempertemukan kita dengan beliau, dan harapan kita semoga kita termasuk dari orang-orang yang disebutkan di dalam perkataan Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ:

وَمَن يُطِعِ ٱللّٰهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَۚ وَحَسُنَ أُو۟لَٰٓئِكَ رَفِيقًا 

"Barangsiapa mentaati Allâh dan Rasûl maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberi keni'matan oleh Allâh, yaitu bersama para Nabî, para shiddîq, para syuhadâ' dan orang-orang shâlih. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya" . (An-Nisâ': 69).
Dakwah dan seruan kita supaya bersama-sama menjadi pengikut Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam, dan sangat tidak pantas dan paling tidak layak bila kita mengajak manusia supaya mereka menjadi para pengikut kita, karena hakekatnya kita termasuk dari orang-orang yang diperintah untuk menjadi pengikut Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam, karena sesungguhnya Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ telah berkata kepada Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam:

قُلْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّى رَسُولُ ٱللّٰهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا ٱلَّذِى لَهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْىِۦ وَيُمِيتُۖ فَـَٔامِنُوا۟ بِٱللّٰهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِىِّ ٱلْأُمِّىِّ ٱلَّذِى يُؤْمِنُ بِٱللّٰهِ وَكَلِمَٰتِهِۦ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُون

"Katakanlah: “Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allâh kepada kalian semua, Yang Dia memiliki kerajaan di berbagai langit dan bumi, tidak ada sesembahan dengan benar untuk disembah kecuali Allâh, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kalian kepada Allâh dan Rasûl-Nya yaitu Nabî yang Ummî, yang dia telah beriman kepada Allâh dan kepada kalimat-kalimat-Nya. Ikutilah dia,  supaya kalian mendapat petunjuk”. (Al-A'râf: 157).

Adanya belajar bersama di sini dan adanya majelis kita ini bertujuan untuk mengarahkan kepada pengikutan terhadap Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam, teman-teman yang datang untuk belajar bersama di sini mengetahui tentang perkara ini, mereka tidak terikat, mereka tidak diikat dengan pendapat kami dan tidak pula diikat supaya taklid kepada kami, selesai belajar masing-masing sibuk dengan urusan mereka masing-masing. 

Alhamdulillâh kami sama-sama sebagai para penuntut ilmu yang terus berupaya untuk saling menguatkan dan saling membenahi, semoga Allâh 'Azza wa Jalla menjadikan kami semua sebagai orang-orang yang banyak bersyukur dan menjadikan kami sebagai para penuntut ilmu sejati hingga mati di atas ilmu, tauhîd dan sunnah. 

Disampaikan oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir pada 29 Dzulhijjah 1438 di Maktabah Al-Khidhir Bekasi. 

⛵ https://t.me/majaalisalkhidhir/4760

http://alkhidhir.com/aqidah/nasehat-pengingat/