Senin, 17 Februari 2020

BEDA SETAN DAN IBLÎS


📱 Pertanyaan:
Apakah perbedaan antara setan dengan Iblîs?

📲 Jawaban:
Ada beberapa perbedaan antara setan dan Iblîs, di antaranya:

1). Setan adalah penamaan terhadap sekelompok bangsa jin yang dijauhkan dari rahmat Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ, dan Iblîs termasuk dari kalangan mereka, berkata Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ:

كَانَ مِنَ ٱلۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ أَمۡرِ رَبِّهِۦۤۗ 

"Keberadaan Iblîs itu termasuk dari kalangan jin, lalu dia melakukan pelanggaran terhadap perintah Rabbnya." [Surat Al-Kahfi: 50].

2) Setan adalah para bawahan, sedangkan Iblîs adalah pimpinan mereka, berkata Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam:

إِنَّ عَرْشَ إِبْلِيسَ عَلَى الْبَحْرِ فَيَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَيَفْتِنُونَ النَّاسَ فَأَعْظَمُهُمْ عِنْدَهُ أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً

"Sesungguhnya singgasana Iblîs di laut, lalu dia mengutus bala tentaranya untuk membuat fitnah kepada manusia, yang paling hebatnya mereka di sisinya adalah yang paling dahsyat fitnahnya."

3). Setan sangat banyak, ada setan dari kalangan jin dan pula dari kalangan manusia, berkata Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ:

وَكَذَ ٰ⁠لِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِیٍّ عَدُوࣰّا شَیَـٰطِینَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ. 

"Demikianlah, Kami telah menjadikan bagi setiap Nabî musuh dari setan kalangan manusia dan dari kalangan jin." [Surat Al-An'âm: 112]. 

Sedangkan Iblîs hanya satu, dan Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ telah memanjangkan umurnya:

قَالَ أَنظِرۡنِیۤ إِلَىٰ یَوۡمِ یُبۡعَثُونَ *  قَالَ إِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِینَ. 

"Berkata Iblîs: Beri tangguhkanlah aku sampai di hari mereka dibangkitkan. Allâh berkata: Sesungguhnya kamu termasuk dari mereka yang diberi tangguh." [Surat Al-A'râf: 14-15].

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada hari Kamis 24 Rabî'ul Awwal 1441 / 21 November 2019 di Mutiara Gading Timur 2 Bekasi. 

⛵️ http://t.me/majaalisalkhidhir

KETENTUAN MERUJUK KE KITÂB SELAIN KITÂB SALAFIYYÎN


Pertanyaan:
Ustâdz Ahsanallâhu ilaika, ana sudah lama punya isykal pada masalah merujuk ke kitâb selain kitâb salafî, sebab sebagian orang yang mentahdzîr mengemukakan pendapat kalau merujuk ke kitâb selain kitâb salafî itu harâm, padahal mereka banyak merujuk ke kitâb orang yang mereka cap bukan salafî, contohnya mereka masih pakai Kamus Munawwir, Terjemah Al-Qur'ãn dan kitâb berbahasa Arab yang bukan kitab salafî juga mereka pakai seperti Matan Ãjrûmiyyah, Muyassar dll. Pertanyaan ana: Bagaimana pendapat Ustâdz pada masalah tadi? Apakah ada dhawâbith-nya atau mutlak harâm? Mohon jawabannya! Syukrân.

Jawaban:
Kalau mau menanyakan pendapat kami, maka kami akan sebutkan tentang pendapat kami bahwa perkara tersebut bukanlah suatu pemutlakan, namun memerlukan adanya perincian, karena orang yang memutlakan pasti pernah merujuk pada salah satu dari kitâb selain kitâb-kitâb Salafiyyîn, di antaranya pada kitâb AL-Ãjrûmiyyah yang ditulis oleh Al-Imâm Abû 'Abdillâh Muhammad Ash-Shanhâjî As-Shûfî Rahimahullâh, beliau seorang shûfî, dan banyak kitâb-kitâb Nahwu serta Qâmûs para penulisnya bukan dari kalangan Salafiyyîn, demikian pula pada kitab-kitab Ushûl, dan lain sebagainya, di antara kitâb-kitâb tersebut telah kita dapati ada di maktabah-maktabah Salafiyyîn, bahkan diajarkan.
Keberadaannya itu sebagai bagian dari ilmu yang kita dianjurkan untuk teliti padanya, meskipun keberadaan mereka Muslimîn namun ketelitian itu yang kita dahulukan:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ 

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan kalian itu. [Al-Hujurât: 6].
Alhamdulillâh di antara kitâb-kitâb yang disebutkan terdapat kebaikan, terdapat kebenaran dan yang terpenting telah diteliti oleh orang-orang yang memilik ilmu, bahkan mereka telah mengajarkannya, menjelaskannya dan menambah dengan memberi berbagai catatan serta menjadikannya sebagai rujukan. 

Guru kami Asy-Syaikh Abû Hâtim Sa'îd bin Da'âs Al-Yâfi'î Rahimahullâh dikenal oleh kawan-kawan beliau yang satu thabaqât bahwa beliau sebagai seorang mutasyaddid, banyak bantahan beliau terhadap kitâb-kitâb menyimpang, namun beliau menyarankan kepada para penuntut ilmu yang mau menekuni ilmu hadîts dan takhrîjnya untuk merujuk ke kitâb "Al-Mu'jamul Mufahras Li Alfâzhil Hadîts". Pada kitâb ini para penulisnya bukan orang-orang Islâm, bahkan beliau sebutkan secara jelas tentang para penulisnya:

لِطَائِفَةِ الْمُسْتَشْرِقِيْنَ

“Karya sekelompok para orientalis”.
Kitâb tersebut diterima dan bahkan dianjurkan untuk dijadikan rujukan karena sudah diteliti oleh orang-orang berilmu dari kalangan kaum Muslimîn, dan telah diakui pula apa yang ada di dalamnya, keberadaan para penulisnya yang bukan Muslimîn itu sama seperti setan yang pernah datang menyampaikan kebenaran kepada Abû Hurairah, dan Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam mengakui kebenaran yang disampaikan tersebut dengan berkata:

أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ، ذَاكَ شَيْطَانٌ

“Adapun dia sungguh benar-benar telah jujur kepadamu padahal dia itu paling banyak berdusta, dia itu adalah setan.”

Di sini kami akan sebutkan rincian-rincian tentang tidak mengapa merujuk kepada kitâb-kitâb selain kitâb Salafiyyîn dengan beberapa ketentuan, di antaranya:    
Pertama: Bila kitâb tersebut telah diteliti oleh orang yang memiliki ilmu.
Kedua: Bila sudah diakui oleh orang-orang berilmu.
Ketiga: Bila sudah diberi catatan dan keterangan oleh orang-orang yang berilmu.
Keempat: Bila sudah diajarkan oleh orang-orang berilmu.
Kelima: Bila sudah menjadi rujukan orang-orang berilmu.

Yang terpenting bagi seseorang yang mau merujuk kepadanya adalah dia mampu membedakan antara kebenaran dan antara kesalahan yang ada di dalamnya. Apa yang kami sebutkan di sini adalah pendapat dari kami, bagi yang merasa sebagai ahli ijtihâd dan ingin meluangkan hasil ijtihâdnya untuk mengkritik pendapat kami maka kami bersyukur, Walhamdulillâh.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir 'Afallâhu 'Anhu di Kemang Pratama Bekasi pada tanggal 22 Dzulhijjah 1438.

🌎 http://t.me/majaalisalkhidhir

SHALAT HAJAT TIDAK SESUAI SYARÎ'AT


📱 Pertanyaan:
Saya mau tanya, bacaan shalat hajat ada yang bilang katanya raka'at pertama baca surat Al-Fatihah sekali, terus surat Al-Kâfirûn sebelas kali, terus surat Al-Ikhlâsh sepuluh kali, kemudian raka'at kedua bacaanya sama lalu salam, lalu shalat lagi baca suratnya sama, Al-Fâtihah terus Al-Kâfirûn, jumlahnya sama, kemudian Al-Ikhlâsh duapuluh kali dan setelah dua raka'at salam lagi, terus begitu, sampai empat kali salâm, jadi jumlah Al-Ikhlâsh sampai puluhan kali.
Yang saya tanyakan boleh tidak shalat seperti itu?

 📲 Jawaban:
Tidak boleh shalat seperti itu, karena tidak ada dalilnya, dan tidak ada pula riwayat shahîh yang menjelaskan bahwa Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam shalat hajat, apalagi dengan tata cara seperti itu, yang ada adalah shalat istikhârah sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhârî dari Jâbir bin 'Abdillâh Radhiyallâhu 'Anhumâ, beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الاِسْتِخَارَةَ فِي الأُمُورِ

"Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam mengajarkan kepada kami tentang istikhârah pada berbagai perkara."

Pada urusan apa saja dianjurkan untuk shalat istikhârah, baik itu pada perkara hajat atau selainnya dari berbagai perkara di kehidupan ini, Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam berkata:

إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ

"Jika salah seorang di antara kalian merencanakan suatu perkara maka hendaklah dia shalat dua raka’at yang bukan shalat wâjib."

Kebiasaan Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam ketika shalat sunnah adalah membaca Al-Fâtihah kemudian membaca surat lain dengan tanpa mengulang-ulangnya.

Adapun shalat hajat seperti yang penanya sebutkan maka itu menyelisihi sunnah Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam, sementara beliau telah katakan:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

"Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan dari perkara kami maka amalan tersebut tertolak."

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir di Ãlu Mannâ' Dammâj Yaman pada malam Jum'at 16 Shafar 1435.

⛵️http://t.me/majaalisalkhidhir

Minggu, 16 Februari 2020

ANAK LAKI-LAKI YANG GUGUR KEWAJIBAN KHITAN BAGINYA


📱 Tanyakan:
'Afwân, ana mau bertanya, anak ana habis melahirkan tapi ada sedikit kelainan di kelaminnya, maaf bagian ujung penisnya seperti sudah disunat, jadi sudah tidak ada kulit penutupnya, lalu bagaimana hukumnya? Apa tetap harus disunat atau sudah tidak perlu disunat lagi?

📲  Jawaban:
Kalau keadaannya persis seperti keadaan orang yang telah dikhitân maka tidak ada kewajiban lagi baginya, Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Bâz Rahimahullâh:

وَلَيسَ عَلَيكَ شَيءٌ

"Tidak ada sedikit pun beban bagimu."

Tujuan khitân adalah untuk menghilangkan kulit yang menutupinya, ketika kulit itu tidak ada maka tidak ada kewajiban lagi baginya untuk khitân.
Dengan keadaannya seperti itu maka patut untuk disyukuri, Alhamdulillâh itu suatu pengkhususan baginya atas orang selainnya.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada hari Ahad tanggal 22 Jumâdal Ãkhirah 1441 / 16 Februari 2020.

http://t.me/majaalisalkhidhir

Jumat, 14 Februari 2020

ILMU DAN PEMAHAMAN


Berkata Guru kami Asy-Syaikh Abû Hâtim Sa'îd bin Da'âs Al-Yâfi'î Rahmatullâh 'Alainâ wa 'Alaih:

ْالْعِلمُ وَالفِقهُ بُحُورٌ زَاخِرَةٌ، لَن يَبلُغَ الكَادِحُ فِيهِ آخِرَهُ، فَمَنْ لَم يَستَغِلْ نُهمَتَهُ فِيهِ لَم يَصِلْ إِلَى الحَظِّ الوَفِرِ

"Ilmu dan pemahaman adalah samudera yang luas, orang yang berusaha keras tidak akan sampai pada ujungnya. Barangsiapa tidak mengerahkan kesungguhan padanya maka dia tidak akan sampai kepada pengambilan yang melimpah".

Fâidah dari Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh. 

http://t.me/majaalisalkhidhir

HISYÂM BIN 'ABDILLÂH AL-LIMBÔRÎ


Nama Beliau:
Beliau bernama Hisyâm bin 'Abdillâh Al-Limbôrî Al-Huamualî Rahimahumallâh.

Tempat Lahir:
Beliau lahir di Limboro Kecamatan Huamual Kabupaten Seram Bagian Barat Propinsi Maluku.
Semangat Beliau Dalam Menuntut Ilmu:
Beliau sejak anak-anak sudah terbiasa datang ke rumah orang tua Al-Ustâdz Abul 'Abbâs Harmîn supaya belajar membaca Al-Qur'ãn. Pada usia remaja beliau berangkat menuntut ilmu di salah satu Pondok Pesantren Ahlussunnah wal Jamâ'ah di Pangkep Sulawesi Selatan.

Guru-guru Beliau:
Di antara guru-guru beliau adalah:
3. Al-Ustâdz Abul Hasan 'Umair.

Pengaruh Beliau Dalam Dakwah:
Beliau selama menuntut ilmu selalu menyampaikan ilmu dan nasehat kepada keluarga serta teman-temannya. Dan yang beliau pengaruhi dengan izin Allâh hingga mampu menjadikannya sebagai pengikut dakwah Ahlussunnah wal Jamâ'ah adalah keponakan beliau 'Afîfah Al-Limboriyyah dan keponakan Al-Ustâdz Abul 'Abbâs Harmîn yaitu Ummu Naufal Al-Limboriyyah. Hingga keduanya dapat mengikuti arahan dan ajakannya kepada dakwah Ahlussunnah wal Jamâ'ah, untuk mengenang jasanya maka 'Afîfah Al-Limbôriyyah menamai anak yang keduanya dengan nama Hisyâm.

Tempat Beliau Wafat:
Beliau wafat di RS Ambon lalu dimakamkan di Limboro Kecamatan Huamual Kabupaten Seram Bagian Barat Propinsi Maluku.
Adapun penyebab beliau sakit berat yaitu karena beliau disihir dan disantet sebagaimana Ustâdznya Abul 'Abbâs Harmîn Rahimahumullâh juga wafat seperti beliau.

Referensi:
Kisah Pemuda Dari Limboro Hisyâm bin 'Abdillâh Al-Limbôrî / Abû Ahmad Muhammad Al-Khidhir / Maktabah Al-Khidhir Bekasi / Cetakan Ke-2 Sya'bân 1439 H—April 2108 M.

KENALILAH NASABMU


📱 Pertanyaan:
Apakah shahîh hadîts dari Abû Hurairah Radhiyallâhu 'Anhu tentang perintah mempelajari nasab? 

📲 Jawaban:
At-Tirmidzî meriwayatkan dari Abû Hurairah Radhiyallâhu 'Anhu dengan lafazh:

تَعَلَّمُوا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِي الْأَهْلِ مَثْرَاةٌ فِي الْمَالِ مَنْسَأَةٌ فِي الْأَثَرِ

"Pelajarilah tentang nasab-nasab kalian supaya kalian dapat menjalin silaturrahim di antara kalian, karena sesungguhnya menjalin silaturrahim dapat menambah kasih sayang dalam keluarga, menambah harta dan dapat menambah usia. 
Berkata At-Tirmidzî Rahimahullâh:

هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ

"Ini adalah hadîts gharîb." 
Dan Al-Albânî Rahimahullâh menshahîhkannya. 

Hadîts ini shahîh pada matannya, dan memiliki pendukung-pendukung pula padanya, di antaranya perkataan Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ:

وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِی تَسَاۤءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَ

"Bertakwalah kepada Allâh yang dengan menyebut nama-Nya kalian saling meminta, dan jalinlah silaturrahim." [Surat An-Nisâ': 1].

Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ berkata pula:

وَٱلَّذِینَ یَصِلُونَ مَاۤ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦۤ أَن یُوصَلَ 

"Orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan.” [Surat Ar-Ra'd: 21].

Dan Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam berkata:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” Riwayat Al-Bukhârî dan Muslim.

Kalau seseorang tidak mengetahui nasabnya maka kepada siapa dia akan menjalin silaturrahim? Oleh karena itu dengan mengetahui nasab maka seseorang akan tepat sasaran silaturrahimnya.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada malam Sabtu tanggal 21 Jumâdal Ãkhirah 1441 / 15 Februari 2020 di Mutiara Gading Timur Bekasi.

http://t.me/majaalisalkhidhir