Sabtu, 22 Februari 2020

👓 CIRI-CIRI ORANG YANG KAGUM DAN BANGGA DIRI 🔍


📱 Pertanyaan:
Ustâdz ada titipan pertanyaan: Adakah ciri-ciri pada orang kagum diri? 

📲 Jawaban:
Orang yang bangga dan kagum terhadap dirinya akan terlihat dari perbuatan dan ucapannya, di antara ucapannya "akulah" atau "milikkulah" atau "kepunyaankulah", berkata Ibnul Qayyim Rahmatullâh 'Alainâ wa 'Alaih:

وَلْيَحْذَرْ كُلُّ الْحَذَرِ مِنْ طُغْيَانِ "أَنَا"، وَ"لِي"، و"عِندِي"، فَإِنَّ هٰذِهِ الْأَلْفَاظَ الثَّلَاثَةَ ابتُلِيَ بِهَا إِبْلِيسُ وَفِرْعَونُ، وَقَارُونُ 

"Hendaklah berhati-hati sepenuh kehati-hatian dari berlebih-lebihan pada ucapan "akulah", "kepunyaankulah", "milikkulah", karena sesungguhnya tiga ucapan ini telah dibinasakan dengannya Iblîs, Fir'aun dan Qârûn."

Tiga ucapan tersebut telah diucapkan oleh orang-orang bangga dan kagum diri, di antara mereka adalah Iblîs La'anahullâh:

قَالَ أَنَا۠ خَیۡرࣱ مِّنۡهُ 

"Bekata Iblîs: Aku lebih baik daripada Ádam." [Surat Shad 76]. 

Kemudian Fir'aun:

لِی مُلۡكُ مِصۡرَ 

"Kepunyaankulah kerajaan Mesir." [Surat Az-Zukhruf: 51]. 

Kemudian Qârûn:

إِنَّمَاۤ أُوتِیتُهُۥ عَلَىٰ عِلۡمٍ عِندِیۤۚ

"Hanyalah aku diberi harta itu karena ilmu yang aku miliki." [Surat Al-Qashash: 78].

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada hari Ahad 19 Dzulqa'dah 1440 / 21 Juli 2019 di Mutiara Gading Timur Bekasi. 

⛵️ http://t.me/majaalisalkhidhir

JIKA ANDA TIDAK BISA SEPERTI MEREKA MAKA SETIDAKNYA JANGAN MENJADI PEMBERAT UJIAN BAGI MEREKA


Ada tiga orang yang terasa berat ujiannya dalam berdakwah, yaitu:
◽️ Orang yang memulai dakwahnya dari nol.
◽️ Orang yang berdakwah langsung di tengah-tengah umat.
◽️ Orang yang memulai dakwahnya dari nol dan dia berdakwah langsung di tengah-tengah umat.

Orang yang ketiga inilah yang paling berat ujian dakwahnya daripada yang pertama dan yang kedua. Dan Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam adalah orang yang paling terberat dakwahnya, beliau memulai dakwahnya dari nol dan beliau berdakwah langsung di tengah-tengah umat. Siapa yang permulaan dakwahnya seperti beliau maka tentu akan menghadapi ujian yang berat, Sa'd bin Abî Waqqâsh Radhiyallâhu 'Anhu bertanya kepada Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاءً؟ 

"Wahai Rasûlullâh, siapakah orang yang paling berat ujiannya?."
Beliau menjawab:

الأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ

"Para Nabî, kemudian orang semisal mereka, kemudian orang yang semisal mereka." Riwayat At-Tirmidzî.

Al-Imâm Al-Bukhârî di dalam "Shahîh"nya berkata:

بَابُ أَشَدِّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَوَّلُ فَالأَوَّلُ

"Bâb orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabî kemudian setelahnya kemudian setelahnya."

Fâidah dari Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada hari Rabu 20 Dzulhijjah 1440 / 21 Agustus 2019 di Mutiara Gading Timur Bekasi. 

⛵️ http://t.me/majaalisalkhidhir

PERJUANGAN ORANG-ORANG YANG BERCELANA DI ATAS MATA KAKI


Jika mereka yang membenci Sunnah cadar dan celana di atas mata kaki itu beralasan tidak sesuai dengan budaya Nusantara maka mereka perlu mengenal dan mengkaji kembali budaya di Nusantara ini. Mereka pasti mengakui bahwa di Nusantara ini paling banyak budayanya, dan sebagian budaya Islâm pun sudah didapati ada di dalamnya. Mereka juga pasti mengakui bahwa yang berjuang membela Tanah Air itu dari berbagai kaum, dari sebelum Indonesia merdeka telah ada para pejuang berjubah, bersurban dan bercelana di atas mata kaki, mereka adalah kaum Padri, mereka ikut dalam perjuangan melawan penjajah, pasukan mereka terdiri dari para santri dan 'Ulamâ, dengan pimpinan Tuanku Imâm Bonjol Rahmatullâh 'Alainâ wa 'Alaihim, isteri-isteri dan putri-putri mereka juga bercadar. 

Perjuangan orang-orang berjubah, bersurban dan bercelana di atas mata kaki tidak berhenti pada perjuangan untuk mendapatkan kemerdekaan saja namun ternyata bersambung pada perjuangan dalam menjaga keutuhan NKRI. Ketika RMS mulai mengibarkan benderanya dan mengobarkan api perlawanannya terhadap NKRI di Ambon dan sekitarnya pada tahun 1999-2002 maka aparat pemerintah tidak bisa bergerak untuk menumpas RMS, karena masih mempertimbangkan jangan sampai terulang kembali seperti kasus Timur-Timur yang digugat dengan pelanggaran HAM. Alhamdulillâh pasukan berjubah, bersurban dan bercelana di atas mata kaki bangkit menyerukan jihâd dengan pimpinan panglima Laskar Jihâd Al-Ustâdz Ja'far 'Umar Thâlib Rahmatullâh 'Alainâ wa 'Alaihim. Aparat pemerintah dari sebagian para petinggi TNI dan POLRI memberikan dukungan, maka tidak heran ketika pasukan berjubah, bersurban dan bercelana di atas mata kaki itu datang ke Ibukota Negara dengan membawa pedang tidak dihambat, padahal jumlah mereka lebih sedikit bila dibandingkan dengan keseluruhan POLRI yang bertugas di Ibukota Negara, mereka dibiarkan membawa pedang, bahkan dibukakan jalan hingga sampai ke tempat yang mereka tuju. 

Demikian pula ketika pasukan itu melakukan latihan di Jawa tidaklah dihalangi bahkan bebas bagi mereka untuk latihan, hingga pemberangkatan ke Ambon dengan menggunakan kapal laut, juga tidak dihalangi, padahal pemerintah memiliki kapal patroli, karena memang ada dari sebagian para petinggi di pemerintahan memberi dukungan dan merespon baik. Alhamdulillâh setelah api RMS padam mereka kembali sebagaimana semula, menuntut ilmu dan terus berdakwah. 

Apakah setelah dirasakan nikmatnya kemerdekaan dan indahnya keutuhan NKRI kemudian kebaikan mereka itu akan dibalas dengan melarang mereka mengamalkan Sunnah dan menampakkan Syi'ar Islâm yang sudah membudaya di Nusantara ini dari puluhan tahun yang lalu?! 

Wahai umat:

وَإِن یَخۡذُلۡكُمۡ فَمَن ذَا ٱلَّذِی یَنصُرُكُم مِّنۢ بَعۡدِهِۦۗ 

"Jika Allâh membiarkan (dengan tidak memberi pertolongan) kepada kalian, maka siapakah gerangan yang dapat menolong kalian selain dari Allâh sesudah itu?! ." [Surat Âli 'Imrân: 160].

Fâidah dari Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir di Mutiara Gading Timur 2 Bekasi pada hari Selasa 8 Rabî'ul Awwal 1441 / 5 November 2019. 

⛵️ http://t.me/majaalisalkhidhir

MENGENAL AL-USTÂDZ JA'FAR 'UMAR THÂLIB


📱 Pertanyaan:
Siapa itu Ustâdz Ja'far 'Umar Thâlib? Apakah Laskar Jihâd itu termasuk firqah?

📲 Jawaban:
Al-Ustâdz Ja'far 'Umar Thâlib Rahmatullâh 'Alainâ wa 'Alaih adalah orang Indonesia yang pertama-tama menuntut ilmu di Dârul Hadîts Dammâj di Yaman, kemudian jejek beliau ini diikuti oleh banyak para penuntut ilmu asal Indonesia dan Malaysia, mereka berdatangan ke Dârul Hadîts Dammâj untuk menuntut ilmu. Dan kita berharap semoga jejak beliau ini termasuk dari sunnah hasanah yang disebutkan di dalam hadîts:

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيءٌ 

"Barangsiapa mencontohkan di dalam Islâm dengan contoh yang baik maka baginya pahalanya dan pahala orang yang beramal dengannya setelahnya dengan tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun." Riwayat Muslim dari Jarîr bin 'Abdillâh Radhiyallâhu 'Anhu dari Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam. 

Setelah Al-Ustâdz Ja'far 'Umar Thâlib kembali dari Dârul Hadîts Dammâj beliau meneruskan dakwahnya di Pondok Pesantren beliau yaitu Pondok Pesantren Ihyâus Sunnah di Degolan, beliau terus menerus menunjukkan kaum Muslimîn Indonesia untuk menuntut ilmu di Dârul Hadîts Dammâj sehingga banyak orang-orang Indonesia berdatangan ke Dârul Hadîts Dammâj, dan kita berharap semoga beliau masuk ke dalam orang-orang yang disebutkan di dalam hadîts:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan maka baginya pahala semisal dengan pahala orang yang melakukannnya." Riwayat Muslim dari Abû Mas'ûd Al-Anshârî Radhiyallâhu 'Anhu dari Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam.

Adapun Laskar Jihâd maka itu adalah suatu nama bagi mereka yang ikut jihâd di Maluku pada tahun 2000 hingga tahun 2002, nama yang lengkapnya adalah Laskar Jihâd Ahlussunnah wal Jamâ'ah.

Dengan sebab keberadaan mereka di Ambon dan sekitarnya, kami bergembira dengan dua kegembiraan:

Pertama: Kami kaum Muslimîn Maluku mendapatkan bantuan kekuatan melalui mereka, di saat kaum Muslimîn Maluku tidak memiliki kekuatan untuk menolak dan melawan kaum Nasrânî, di saat kaum Muslimîn Maluku tertindas dan di saat tidak adanya bantuan tenaga dari kaum Muslimîn di luar Maluku, tiba-tiba mereka datang dengan melewati berbagai tantangan, hambatan dan fitnah, Alhamdulillâh mereka sampai di kepulauan Maluku lalu menolong dan membantu suadara-saudara mereka kaum Muslimîn di Maluku. 

Kedua: Kami dan kaum Muslimîn Maluku mengenal dakwah Tauhîd dan Sunnah dari mereka, yang sebelumnya kami tidak pernah tahu tentang Tauhîd dan Sunnah. Bahkan kebanyakan yang menjadi Ahlussunnah di Maluku karena sebab mereka ketika itu, dan kita berharap semoga Al-Ustâdz Ja'far 'Umar Thâlib dan Laskar Jihâdnya termasuk ke dalam hadîts yang disebutkan:

فَوَاللّٰهِ لأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

"Demi Allâh, diberi hidayah dengan sebabmu seorang saja itu lebih baik bagimu daripada Onta merah." Riwayat Al-Bukhârî dari Sahl bin Sa'd Radhiyallâhu 'Anhu dari Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam. 

Adapun Laskar Jihâd Ahlussunnah wal Jamâ'ah hanyalah berumur dua tahun, didirikan pada tahun 2000 dan dibubarkan pada tahun 2002 Masehi. 

Pada bulan Maret 2003, Al-Ustâdz Ja'far 'Umar Thâlib Rahimahullâh ditemui oleh pembawa berita Al-Jazîrah lalu beliau diwawancarai tentang pembubaran Laskar Jihâd maka beliau sebutkan beberapa kekeliruan yang menjadi sebab pembubarannya, kemudian beliau katakan kepada yang berdialog dengan beliau:

وَنَحْنُ أَيضًا نَتَرَاجَعُ عَنْ أَخْطَائِنَا وَعَنْ مُخَالَفَاتِنَا، مُخَالَفَاتٍ مَنْهَجِيَّةٍ، مُخَالَفَاتٍ أَخْلَاقِيَّةٍ

"Dan kami juga telah mengakui terhadap kesalahan-kesalahan kami dan penyelisihan-penyelisihan kami, penyelisihan-penyelisihan perkara manhaj dan penyelisihan-penyelisihan perkara akhlak."

Beliau menuturkannya di dalam berdiolog tersebut terasa senang, hingga beliau katakan:

الْحَمْدُ لِلّٰهِ تَرَاجَعْنَا وَاتَّفَقْنَا عَلَى الرُّجُوعِ إِلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ بِفَهْمِ سَلَفِ الْأُمَّةِ

"Segala pujia bagi Allâh, kami telah kembali kepada kebenaran dan kami telah bersepakat untuk kembali kepada Al-Qur'ãn dan As-Sunnah di atas pemahaman Salaful Ummah."

Pada akhir dialog, orang yang berdialog dengan beliau berkata:

نَشْكُرُكُمْ فَضِيلَةَ الشَّيخِ عَلَى هٰذَا اللِّقَاءِ

"Kami berterima kasih kepada kalian wahai Fadhîlatus Syaikh atas pertemuan ini."

Beliau biasa dipanggil dengan panggilan Syaikh ketika beliau ziarah ke Kerajaan Saudi Arabia atau ketika beliau ziarah ke Yaman, di Dârul Hadîts Dammâj beliau disebut dengan Syaikh oleh Al-'Allâmah Yahyâ Al-Hajûrî 'Afallâhu 'Annâ wa 'Anhu, dan kami mendengarkan dari beberapa penuntut ilmu tentang julukan yang diberikan kepada beliau ini, padahal Al-'Allâmah Yahyâ Al-Hajûrî tidak mudah menjuluki seseorang sebagai Syaikh, namun Al-Ustâdz Ja'far 'Umar Thâlib beliau menjulukinya dengan Syaikh. Maka tidak heran kalau kemudian sebagian para Dâ'i menjuluki beliau dengan julukan Syaikhul Asâtîdz, karena orang-orang yang belajar di Dammâj pada zaman Al-Imâm Al-Wâdi'î Rahimahullâh, kebanyakan mereka adalah murid beliau, dan juga banyak para Dâ'i yang dakwah di berbagai wilayah di Indonesia itu banyak dari murid-murid beliau, sehingga pantas dijuluki dengan julukan Syaikhul Asâtîdz ini. 

Semoga Allâh mengampuni kita dan mengampuni beliau, merahmati kita dan merahmati beliau serta merahmati siapa saja yang mematuhi larangan yang disebutkan di dalam hadîts:

لاَ تَسُبُّوا الأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا

"Janganlah kalian mencela orang-orang yang sudah meninggal dunia, karena sesungguhnya mereka benar-benar telah sampai kepada apa yang mereka lakukan." Riwayat Al-Bukhârî dari 'Âisyah Radhiyallâhu 'Anhâ dari Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Ayyadahullâh di Kemang Pratama Bekasi pada malam Senin 25 Dzulhijjah 1440 / 26 Agustus 2019. 

⛵️ http://t.me/majaalisalkhidhir

Jumat, 21 Februari 2020

ANAK ZINÂ MAHRAM BAGI AYAH BIOLOGISNYA


Pertanyaan:
Anak zinâ nasabnya kan tidak ke bapak biologisnya, tapi ke ibunya. Itu yang pernah ana dengar, mohon koreksinya kalau salah. Jika memang nasabnya tidak ke bapak biologisnya, lalu apakah status anak zinâ tetap mahram ke bapak biologisnya? Mohon pencerahannya!

Jawaban:
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan 'Ulamâ tentang status anak zinâ bagi ayah biologisnya, disebutkan dari kalangan madzhab Asy-Syâfi'î bahwa tidak ada hubungan kemahraman antara anak zinâ dengan ayah biologisnya, bahkan mereka berpendapat bahwa anak zinâ itu boleh untuk dinikahi oleh ayah biologisnya. Namun ini adalah pendapat yang sangat salah, bertentangan dengan Al-Qur’ãn dan As-Sunnah, serta bertentangan dengan fitrah manusia.
Di dalam Al-Qur'ãn telah diterangkan:

حُرِّمَتۡ عَلَیۡكُمۡ أُمَّهَـٰتُكُمۡ وَبَنَاتُكُمۡ

"Telah diharamkan untuk kalian menikahi ibu-ibu kalian dan menikahi anak-anak perempuan kalian." [Surat An-Nisâ': 23].

Di dalam As-Sunnah telah dijelaskan tentang Hilâl bin Umayyah yang menuduh isterinya berzina dengan Syarîk bin Sahmâ', maka Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam berkata:

أَبْصِرُوهَا فَإِنْ جَاءَتْ بِهِ أَبْيَضَ سَبِطًا قَضِيءَ الْعَيْنَيْنِ فَهُوَ لِهِلاَلِ بْنِ أُمَيَّةَ وَإِنْ جَاءَتْ بِهِ أَكْحَلَ جَعْدًا حَمْشَ السَّاقَيْنِ فَهُوَ لِشَرِيكِ ابْنِ سَحْمَاءَ

"Perhatikanlah dia, jika Nanti anaknya putih, berambut lurus dan berbadan sedang maka itu anaknya Hilâl bin Umayyah. Jika nanti anaknya hitam, berambut keriting dan kurus, maka itu anaknya Syarîk bin Sahmâ’.
Berkata Anas bin Mâlik Radhiyallâhu 'Anhu:

فَأُنْبِئْتُ أَنَّهَا جَاءَتْ بِهِ أَكْحَلَ جَعْدًا حَمْشَ السَّاقَيْنِ

"Lalu dikabarkan kepadaku bahwasanya yang lahir adalah hitam, berambut kriting dan kurus." Riwayat Muslim (no. 3830). 
Setelah nampak ciri-cirinya seperti Syarîk bin Sahmâ' maka dikatakanlah itu adalah anaknya, ini pemastian sesuai biologisnya. Ketika sudah seperti itu maka secara fitrah manusia akan mengakui itu sebagai anaknya sekaligus sebagai mahramnya, dalam artian haram bagi ayah biologisnya untuk menikahinya karena Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ telah katakan:

حُرِّمَتۡ عَلَیۡكُمۡ أُمَّهَـٰتُكُمۡ وَبَنَاتُكُمۡ

"Telah diharamkan untuk kalian nikahi atas ibu-ibu kalian dan anak-anak perempuan kalian." [Surat An-Nisâ': 23].

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada hari Jum'at tanggal 17 Jumâdal Ãkhirah 1441 / 21 Februari 2020 di Mutiara Gading Timur Bekasi.

http://t.me/majaalisalkhidhir

Kamis, 20 Februari 2020

HUKUM ANAK KAMBING DI DALAM RAHIM INDUKNYA YANG DISEMBELIH


Pertanyaan:
'Afwân ana mau tanya lagi, kalau untuk 'aqîqah ternyata pas menyembelih kambing di dalamnya ada anak kambingnya, hukumnya bagaimana ya?

Jawaban:
Tidak apa-apa, karena sebelumnya kalian tidak mengetahui keberadaannya, bahkan itu bisa teranggap sebagai suatu kelebihan bagi kalian yang Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ lebihkan supaya kalian semakin bersyukur kepada-Nya. Dan anak kambing yang kalian dapatkan di dalam rahim induknya itu boleh kalian konsumsi karena masih berbentuk janîn, hukumnya sama dengan bagian dari anggota tubuh induknya, kecuali kalau kalian mendapatinya di rahim induknya dalam keadaan sudah bergerak-gerak karena itu sudah ditiupkan roh, jika sudah ditiupkan roh padanya maka itu hukumnya sama dengan hewan yang lainnya, boleh mengonsumsinya kalau disembelih terlebih dahulu, berkata Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ:

فَكُلُوا۟ مِمَّا ذُكِرَ ٱسۡمُ ٱللَّهِ عَلَیۡهِ إِن كُنتُم بِـَٔایَـٰتِهِۦ مُؤۡمِنِینَ

"Makanlah kalian terhadap hewan yang disembelih dengan menyebut nama Allâh pada penyembelihannya jika keberadaan kalian itu beriman kepada ayat-ayat-Nya." [Surat Al-An'âm: 118].

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada hari Jum'at tanggal 17 Jumâdal Ãkhirah 1441 / 21 Februari 2020 di Mutiara Gading Timur Bekasi.

JANGAN PERNAH MENGHARAPKAN PUJIAN MANUSIA


Dahulu kami sering mengumpulkan fâidah lalu kami jadikan sebagai risâlah, setiap kali jadi kami perlihatkan kepada Masyâyikh kami supaya mereka memberikan koreksian, namun di antara mereka ada yang memberikan taqdîm dan ada pula yang memberikan taqrîzh. Kemudian kami tidak lagi memperlihatkan kepada mereka karena khawatir akan ada lagi taqdîm atau taqrîzh dari mereka yang mengandung pujian dan pemberian berbagai julukan yang kami tidak harapkan.

Fâidah dari Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Ayyadahullâh pada malam Jum'at 14 Muharram 1441 / 13 September 2019 di Mutiara Gading Timur Bekasi. 

⛵️ http://t.me/majaalisalkhidhir