Selasa, 15 Desember 2020

DOA YANG PALING BANYAK DIUCAPKAN OLEH NABIUTTAUBAH SHALLALLÂHU 'ALAIHI WA SALLAM


يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
 
“Wahai Yang Maha Membolak-balikkan hati, kokohlah hatiku di atas agama-Mu.” Riwayat Ahmad dan At-Tirmidzî. 

Terkadang seseorang awal menuntut ilmu niatnya bukan karena Allâh 'Azza wa Jalla, namun tatkala dia terus menerus menuntut ilmu dan senantiasa berdoa supaya Allâh Tabâraka wa Ta'âlâ mengokohkan hatinya di atas agama dan ketaatan maka Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ menolongnya dan memberikan taufîq kepadanya dalam keikhlâshan menuntut ilmu.

Fâidah Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada kajian "Tadzkiratussâmi'" hari Senin Dhuhâ tanggal 28 Rabî'uts Tsânî 1442 / 14 Desember 2020 di Dârul Qur'ãn wal Hadîts Bekasi.

PERBANYAKLAH BERDOA SEBAGAIMANA PARA SHAHABAT TELAH MEMPERBANYAK DALAM BERDOA


Jangan pernah menganggap bahwa doamu selama ini tidak dikabulkan, sungguh Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ mengabulkan doamu, hanya saja Allâh Tabâraka wa Ta'âlâ mewujudkannya kepadamu di saat yang tepat bagimu, berkata Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا 

“Tidaklah ada dari seorang muslim yang berdoa dengan suatu doa yang tidak ada padanya dosa dan tidak pula ada pemutusan tali kekeluargaan, kecuali Allâh akan memberikannya dengan salah satu dari tiga berikut, yaitu: Allâh akan mengabulkannya dengan segera, atau Allâh akan mengakhirkan untuknya di akhirat atau Allâh akan memalingkannya dari keburukan yang semisalnya." Riwayat Ahmad.

Fâidah dari Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada malam Senin tanggal 28 Rabî'uts Tsânî 1442 / 14 Desember 2020 di Dârul Qur'ãn wal Hadîts Bekasi.

Minggu, 13 Desember 2020

AKHIR PENCARIANKU ADALAH HUSNUL KHÂTIMAH


Akhir pencarianku adalah husnul khâtimah, dan orang yang terbaik bagiku adalah orang yang husnul khâtimah, bagaimanapun keadaannya, tatkala dia husnul khâtimah maka aku bergembira dengannya. Pernah Khâlid bin Walîd Radhiyallâhu 'Anhu ikut merajam seorang wanita yang terjatuh ke dalam perbuatan zina, tatkala beliau sedang merajamnya, ternyata darah dari wanita itu mengenai beliau, lalu beliau mencelanya, maka Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam berkata:

مَهْلاً يَا خَالِدُ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ تَابَهَا صَاحِبُ مَكْسٍ لَغُفِرَ لَهُ

"Jangan tergesa-gesa mencela wahai Khâlid, demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh benar-benar ia telah bertaubat, kalaulah seorang pemungut pajak bertaubat dengan taubat seperti wanita itu maka pasti diberi ampunan."
Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ menjadikan wanita tersebut husnul khâtimah karena ia memasrahkan dirinya untuk ditegakkan hukum Allâh kepadanya, ia siap dirajam karena itu penebus dari perbuatannya berzina, iapun mati dalam keadaan husnul khâtimah. 
Yâ Allâh jadikanlah husnul khâtimah kepadaku dan kepada siapa saja yang mencintaiku karena Engkau.

Fâidah Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada hari Ahad tanggal 27 Rabî'uts Tsânî 1442 / 13 Desember 2020 di Dârul Qur'ãn wal Hadîts Bekasi.

Senin, 02 November 2020

MENGQADHÂ SHALAT TAHAJJUD

Pertanyaan:
Ustâdz, 'afwân izin bertanya, apakah qadhâ tahajjud boleh dilakukan oleh orang yang terbiasa melakukannya atau yang sesekali melakukannya? Misal ada orang yang tahajjud sepekan dua sampai tiga kali, lalu ada satu hari terluput dan sudah niat ingin tahajjud tapi sudah masuk waktu Shubuh, atau tertidur atau ada hal lain yang menghalanginya untuk tahajjud di waktu tersebut. Apakah tetap diperbolehkan qadhâ? Syukrân. Jazâkallâhu khairan. 

Jawaban:
Tatkala seseorang sudah niat untuk tahajjud lalu ada suatu halangan baginya atau dia tertidur darinya maka boleh baginya untuk mengqadhânya sebagai perwujudan niatnya, walaupun dia tidak rutin melakukan tahajjud, karena keumuman perkataan Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ:

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِیۤ

"Maka laksanakanlah shalat untuk mengingat-Ku." [Surat Thâhâ: 14].

Dijawab oleh: 
Al-Ustâdz Abû Ahmad Al-Khidhir Hafizhahullâh pada hari Senin 16 Rabî'ul Awwal 1442 / 2 November 2020 di Dârul Qur'ãn wal Hadîts Bekasi.

Minggu, 01 November 2020

MELAKUKAN PUASA-PUASA SUNNAH SELURUHNYA

Pertanyaan:
Seseorang yang sudah tua ingin menyambung puasa-puasa Sunnah seperti puasa Senin dan Kamis disambung dengan puasa Dâwud dan puasa Ayyâmul Bidh, apakah benar itu tidak boleh?

Jawaban:
Yang tidak boleh bagi seseorang kalau dia berpuasa terus menerus setiap hari, 'Abdullâh bin 'Amr Radhiyallâhu 'Anhumâ pernah berpuasa setiap hari, lalu dianjurkan oleh Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam untuk puasa 3 hari dalam sebulan (Ayyâmul Bidh), beliau katakan mampu lebih dari itu, lalu dianjurkan untuk puasa Senin dan Kamis, beliau katakan mampu lebih dari itu, lalu dianjurkan untuk puasa sehari dan berbuka sehari (puasa Dâwud), Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam katakan:

صُمْ أَفْضَلَ الصِّيَامِ عِنْدَ اللَّهِ صَوْمَ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ

"Puasalah kamu dengan seutama-utama puasa di sisi Allâh yaitu puasa Dâwud 'Alaihis Salâm."

Lalu 'Abdullâh bin 'Amr Radhiyallâhu 'Anhumâ puasa Dâwud di masa mudanya, namun tatkala sudah tua, beliaupun berkata:

يَا لَيْتَنِي أَخَذْتُ بِالرُّخْصَةِ

"Aduhai kiranya aku dahulu mengambil keringanan."
Yakni tidak memperbanyak berpuasa Sunnah supaya di masa tua dapat memperbanyak puasa-puasa Sunnah, karena seakan-akan kekuatannya untuk berpuasa Sunnah telah terhabiskan di masa mudanya. 

Tatkala seseorang sudah tua dan dia ingin memperbanyak berpuasa dengan mengurutkan puasa-puasa Sunnah seperti puasa Dâwud dengan puasa Senin dan Kamis atau dengan puasa Ayyâmul Bidh maka ini boleh baginya, karena yang terlarang adalah bagi orang yang berpuasa setiap hari, Wallâhu A'lam.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada malam Senin 16 Rabî'ul Awwal 1442 / 2 November 2020 di Dârul Qur'ãn wal Hadîts Bekasi.

Kamis, 15 Oktober 2020

KETENANGAN YANG BERKESINAMBUNGAN


Pertanyaan:
Ustâdz apakah tepat kita memulai hafalan Al-Qur'ãn dari surah Al-Baqarah terlebih dahulu dan sambil diselingkan hafalan Juz 'Amma? Karena saya memulai hafalan dari surah Al-Baqarah dan Juz 'Amma hanya dimurâja'ah saja waulupun tidak hafal sebagian.  Mana yang lebih baik bagi saya Ustâdz dan apa nasehat Ustâdz bagi orang yang enggan atau dia futur dari menghafal Al-Qur'ãn? Mohon faedahnya.

Jawaban:
Hendaklah bagi yang menghafal Al-Qur'ãn memulai hafalannya dengan yang termudah baginya dalam menghafalnya, berkata Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ:

فَٱقۡرَءُوا۟ مَا تَیَسَّرَ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ

"Bacalah oleh kalian terhadap apa yang mudah dari Al-Qur'ãn." 
Masih dalam kelanjutan ayat ini, Allâh 'Azza wa Jalla katakan pula:

فَٱقۡرَءُوا۟ مَا تَیَسَّرَ مِنۡهُ

"Maka bacalah oleh kalian terhadap apa yang mudah dari Al-Qur'ãn." [Surat Al-Muzzammil: 20].
Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam tatkala memulai menghafal Al-Qur'ãn dari mengikuti bacaan Jibrîl 'Alaihish Shalâtu was Salâm, beliau dibacakan bukan satu surat penuh, namun dibacakan beberapa ayat dari permulaan surat Al-'Alaq, ini bertujuan supaya lebih mudah dibaca dan dihafal:

وَقَالَ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ لَوۡلَا نُزِّلَ عَلَیۡهِ ٱلۡقُرۡءَانُ جُمۡلَةࣰ وَ ٰ⁠حِدَةࣰۚ كَذَ ٰ⁠لِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِۦ فُؤَادَكَۖ وَرَتَّلۡنَـٰهُ تَرۡتِیلࣰا

"Berkata orang-orang kâfir: Mengapa Al-Qur’ãn itu tidak diturunkan kepadanya dengan sekali turun saja?" Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartîl (teratur)." [Surat Al-Furqân: 32].
Dan yang dapat kita nasehatkan, hendaklah kita menyibukkan diri dengan Al-Qur'ãn pada setiap memasuki hari kita dan melewatinya, dengan sebab itu kita akan selalu mendapatkan petunjuk dan meraih ketenangan yang berkesinambungan:

إِنَّ هَـٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ یَهۡدِی لِلَّتِی هِیَ أَقۡوَمُ وَیُبَشِّرُ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ ٱلَّذِینَ یَعۡمَلُونَ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ أَنَّ لَهُمۡ أَجۡرࣰا كَبِیرࣰا

"Sesungguhnya Al-Qur’ãn ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman yang mengerjakan amal shâlih bahwa bagi mereka pahala yang besar." [Surat Al-Isrâ': 9].

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir pada hari Rabu 14 Oktober 2020 / 26 Shafar 1442 di Dârul Qur'ãn wal Hadîts Bekasi.

Sabtu, 10 Oktober 2020

SEBAB-SEBAB MERAIH KETENANGAN DAN KETENTERAMAN


1. Bertaqwâ dan beriman. 
Berkata Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ:

فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِینَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِینَ وَأَلۡزَمَهُمۡ كَلِمَةَ ٱلتَّقۡوَىٰ وَكَانُوۤا۟ أَحَقَّ بِهَا وَأَهۡلَهَاۚ 

"Lalu Allâh menurunkan ketenangan kepada Rasûl-Nya, dan kepada orang-orang beriman, Allâh mewajibkan kepada mereka kalimat taqwâ, keberadaan mereka berhak dengan kalimat taqwâ itu dan patut memilikinya." [Surat Al-Fath: 26]. 

2. Bertauhîd. 
Berkata Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ:

ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan suatu kezhaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." [Surat Al-An'âm: 82].
Kezhaliman yang dimaksud pada ayat adalah kesyirikan, Al-Bukhârî dan Muslim telah meriwayatkan:

عَنْ وَكِيعٍ عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ: {الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ} شَقَّ ذَلِكَ عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالُوا أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ هُوَ كَمَا تَظُنُّونَ إِنَّمَا هُوَ كَمَا قَالَ لُقْمَانُ لاِبْنِهِ: يَا بُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

"Dari Wakî' dari Al-A'masy dari Ibrâhîm dari 'Alqamah dari 'Abdullâh (yakni Ibnu Mas'ûd), beliau berkata: "Tatkala turun ayat: "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan suatu kezhaliman." Merasa berat atas itu para Shahabat Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam, mereka berkata: "Siapa di antara kami yang tidak menzhalimi dirinya?." Berkata Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam: "Bukanlah itu seperti yang kalian sangka, akan tetapi itu seperti yang dikatakan oleh Luqmân kepada puteranya: "Wahai puteraku janganlah kamu menyekutukan Allâh, karena menyekutukan Allâh benar-benar kezhaliman yang besar."

3. Taat dan patuh kepada Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam.
Berkata Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ:

لَّقَدۡ رَضِیَ ٱللَّهُ عَنِ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ إِذۡ یُبَایِعُونَكَ تَحۡتَ ٱلشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِی قُلُوبِهِمۡ فَأَنزَلَ ٱلسَّكِینَةَ عَلَیۡهِمۡ وَأَثَـٰبَهُمۡ فَتۡحࣰا قَرِیبࣰا

"Sesungguhnya Allâh telah ridhâ terhadap orang-orang beriman ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, Allâh mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat waktunya." [Surat Al-Fath: 18].

4. Menjauhi ketidaktenangan dan tempat-tempatnya.
Berkata Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam:

سَتَكُونُ فِتَنٌ الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ، وَالْقَائِمُ خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي، وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي، مَنْ تَشَرَّفَ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ، فَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ

"Akan ada berbagai macam fitnah, orang yang duduk padanya itu lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri itu lebih baik daripada orang yang berjalan, orang yang berjalan padanya itu lebih baik daripada orang yang berlari. Orang yang mendekat kepadanya maka dia akan terjerumus ke dalamnya, barangsiapa mendapati tempat bernaung atau tempat berlindung maka hendaklah dia berlindung darinya." Riwayat Al-Bukhârî.

5. Mencari ilmu.
Berkata Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu maka Allâh memudahkannya baginya jalan menuju Surga, dan tidaklah berkumpul suatu kaum di suatu rumah dari rumah-rumah Allâh, mereka membaca Kitâbullâh dan saling mengajarkannya kecuali Allâh akan turunkan ketenangan kepada mereka, Dia akan melimpahkan rahmat kepada mereka, para malaikat akan menaungi mereka dan Allâh akan menyebut-nyebut mereka ke siapa saja yang ada di sisi-Nya." Riwayat Muslim. 

6. Bertanya kepada orang berilmu. 
Cukup kisah pembunuh 100 jiwa sebagai pelajaran, bahwasanya dirinya tidak merasa tenang karena dosa besarnya membunuh 100 jiwa, hingga beliau bertanya kepada orang berilmu. Dengan sebab itu beliau memperoleh ketenangan dan mendapatkan ampunan, kemudian khatîb (yakni Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir) menceritakan kisahnya yang diriwayatkan oleh Al-Bukhârî dan Muslim. 
Berkata Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ:

فَسۡـَٔلُوۤا۟ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

"Maka bertanyalah kalian kepada orang-orang berilmu jika kalian tidak mengetahui." [Surat An-Nahl: 43]. 
Dan Berkata Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ:

وَإِذَا جَاۤءَهُمۡ أَمۡرࣱ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُوا۟ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰۤ أُو۟لِی ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِینَ یَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗ

"Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, lalu mereka menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasûl dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya dapat mengetahuinya dari Rasûl dan Ulil Amri itu." [Surat An-Nisâ': 83]. 

7. Berdzikir.
Berkata Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ:

ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَتَطۡمَىِٕنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَىِٕنُّ ٱلۡقُلُوبُ

"Orang-orang yang beriman dalam keadaan tenang hati mereka karena berdzikir kepada Allâh, ketahuilah hanya dengan berdzikir kepada Allâh hati menjadi tenang." [Surat Ar-Ra'd: 28].

Diringkas dari khutbah Jum'at Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada 23 Shafar 1442 / 9 Oktober 2020 di Masjid Al-Kautsar Kp Tenggilis Mustikajaya Bekasi.