Senin, 09 Maret 2020

HADÎTS DHA'ÎF TENTANG MUSIBAH


Pertanyaan:
Ustâdz, ana mau bertanya, adakah hadîts yang shahîh ataupun lainnya yang di dalam lafazhnya seperti berikut: 
1). Sungguh barangsiapa yang bersabar dalam musibah dan dia sabar dan ridhâ maka Allâh akan mengangkatnya 300 derajat, sederajat jaraknya antara langit dan bumi. 
2). Sabar dalam menjalankan ketaatan, maka Allâh akan menulis 600 derajat, setiap dua derajat jaraknya ujung langit bumi dengan Sidratul Muntahâ. 
3. Sabar dalam menjauhi kemaksiatan, Allâh akan berikan 900 derajat yang tiap dua derajat seperti luas 'Arsy Allâh dua kali lipat".

Jawaban:
Tidak ada satu pun hadîts yang shahîh dan tidak ada pula hadîts yang hasan dengan lafazh tersebut, ada dari perawi menyebutkan itu adalah perkataan 'Abdullâh bin 'Abbâs Radhiyallâhu 'Anhumâ, namun Ibnul Jauzî Rahimahullâh menyebutkan itu dari perkataan 'Alî bin Abî Thâlib Radhiyallâhu 'Anhu, dan Ibnul Jauzî Rahimahullâh di dalam "Al-Maudhû'ât" menghukumi hadîts tersebut sebagai hadîts dha'îf. Demikian pula As-Suyûthî Rahimahullâh telah menandai hadîts tersebut sebagai hadîts dha'îf.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada hari Senin tanggal 14 Rajab 1441 / 9 Maret 2020.

http://t.me/majaalisalkhidhir

Minggu, 08 Maret 2020

KEWAJIBAM MELAYANI SUAMI


Pertanyaan:
Saat isteri sedang berpuasa sunnah, lalu suami minta bermesraan, bolehkah isteri membantu memuaskan suaminya dengan tanpa jima'? (Pertanyaan dari Bekasi). 

Jawaban:
Boleh bagi isteri melayani suaminya untuk bermesraan dalam keadaan dia berpuasa, berkata Âisyah Radhiyallâhu 'Anhâ:

كَانَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُنِي وَهُوَ صَائِمٌ وَأَنَا صَائِمَةٌ

“Dahulu Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam pernah menciumku dalam keadaan beliau berpuasa dan aku juga dalam keadaan berpuasa.” Riwayat Abû Dâwud. 

Jangankan melayani hanya bermesraan, melayaninya jima'pun boleh, karena dia hanya berpuasa sunnah, sementara melayani suami untuk jima' adalah suatu kewajiban, berkata Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam:

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ زَوْجتَهُ لِحَاجتِهِ فَلْتَأْتِهِ وإِنْ كَانَتْ عَلَى التَّنُّوْرِ

“Jika seorang suami mengajak isterinya untuk jima' dengannya maka hendaklah dia memenuhinya meskipun dia berada di dapur.” Riwayat At-Tirmidzî, An-Nasâ’î dan berkata At-Tirmidzî: "Ini adalah hadîts hasan shahîh."

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada hari Ahad tanggal 13 Rajab 1441 / 8 Maret 2020.

http://t.me/majaalisalkhidhir

Jumat, 06 Maret 2020

KETINGGIAN KUBURAN HANYA SEJENGKAL


Pertanyaan:
Adakah hadîts tentang tentang meninggikan kuburan dengan tinggi sejengkal? (Pertanyaan dari Limboro Huamual Maluku). 

Jawaban:
Ibnu Hibbân meriwayatkan dari hadîts Jâbir bin 'Abdillâh Radhiyallâhu 'Anhumâ:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُلْحِدَ وَنُصِبَ عَلَيْهِ اللَّبِنُ نَصَبًا، وَرُفِعَ قَبْرُهُ مِنَ الأَرْضِ نَحْوًا مِنْ شِبْرٍ

"Bahwa Nabi Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam dimakamkan dalam liang lahat lalu ditancapkan batu nisan di atasnya, dan ditinggikan kuburannya dari permukaan tanah setinggi satu jengkal."

Adapun riwayat Muslim dari Abul Hayyâj Hayyân bin Husain Rahimahullâh, beliau berkata: Berkata kepadaku 'Alî bin Abî Thâlib Radhiyallâhu 'Anhu: "Aku akan mengutusmu sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengutusku: 

أن لاَ تَدَعَ صُورَةً إلاَّ طَمَسْتَهَا، وَلاَ قَبْراً مُشْرفاً إلاَّ سَوَّيْتَهُ

"Janganlah kamu biarkan satu gambar pun kecuali kamu hapus, dan jangan pula kamu biarkan satu kuburan pun yang ditinggikan kecuali kamu ratakan". Riwayat Muslim.
Maka yang dimaksud dengan meratakannya yaitu menyamakannya dengan kuburan lainnya, yang tingginya dari permukaan tanah sekitar sejengkal.

Adapun meninggikannya lebih dari sejengkal, menyemennya, memasangkan keramik atau menjadikan kubah padanya maka ini terlarang, berkata Jâbir bin 'Abdillâh Radhiyallâhu 'Anhu:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam melarang mengapur kuburan, mendudukinya dan membangun di atasnya.” Riwayat Muslim.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada hari Sabtu tanggal 12 Rajab 1441 / 7 Maret 2020.

PERMISALAN BULAN-BULAN HARÂM


Permisalan 4 bulan harâm itu seperti permisalan 4 orang Nabî, 3 bulan yang berurutan yaitu bulan Dzulqa'dah, Dzulhijjah dan Muharram itu seperti 3 orang Nabî Banî Isrâîl yaitu Nabî Hârûn, Mûsâ dan Yûsya'. Permisalan Dzulqa'dah seperti Hârûn, permisalan Dzulhijjah seperti Mûsâ dan permisalan Muharram seperti Yûsya' 'Alaihimush Shalâtu was Salâm.
Sedangkan bulan Rajab permisalannya seperti Nabî Al-Khidhir, pada bulan Rajab ini sekelompok dari qabîlah 'Abdil Qais memanfaatkannya untuk menuntut ilmu kepada Nabî Muhammad Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam di Madînah karena kaum kâfir Mudhar memuliakan bulan Rajab dengan membuka jalan menuju Madînah, sekelompok qabîlah 'Abdil Qais datang menuntut ilmu kepada Nabî Muhammad Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam sebagaimana Nabî Mûsâ pernah datang menemui Al-Khidhir 'Alaihimash Shalâtu was Salâm untuk menuntut ilmu kepadanya.

Fâidah dari Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada hari Jum'at tanggal 11 Rajab 1441 / 6 Maret 2020.

BEDA MUSIBAH DAN AZAB


Pertanyaan:
Apa perbedaan musibah dengan azab?

Jawaban:
Musibah adalah suatu akibat dari perbuatan yang kejadiannya tidak disenangi dan di balik kejadiannya terdapat kebaikan bagi orang yang sabar menghadapinya, berkata Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

"Barangsiapa yang Allâh inginkan kebaikan kepadanya maka Allâh menimpakkan musibah kepadanya." Riwayat Al-Bukhârî dari Abû Hurairah Radhiyallâhu 'Anhu.

Dari defenisi tersebut jelaslah bahwa musibah ditimpakkan secara khusus kepada orang beriman semasa hidupnya di dunia, jika sebab ditimpakkan musibah kepadanya itu karena dosa yang dia perbuat maka musibah tersebut sebagai penghapusnya, berkata Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوْبَةَ فِي الدُّنْيَا

"Jika Allâh menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya maka Dia menyegerakan kepadanya hukuman di dunia." Riwayat At-Tirmidzî.
Jika orang beriman semasa hidupnya terjatuh ke dalam dosa namun dia tidak mendapatkan musibah di dunia maka ada dua kemungkinan baginya, yaitu: Dia diampuni oleh Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ atau dia dia akan mendapatkan hukuman akibat dosanya di akhirat, karena keumuman dalîl:

وَإِذَا أَرَادَ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَلَيْهِ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَهُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Apabila Allâh menghendaki keburukan kepada hambanya maka Allâh akan menahan hukumannya hingga ditunaikan balasannya pada hari kiamat.” Riwayat At-Tirmidzî. 
Kemudian Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ memberikan ampunan kepadanya lalu memasukannya ke dalam Surga. 

Adapun azab maka ditimpakkan kepada orang yang tidak beriman semasa hidupnya di dunia dan di akhir mendapatkan tambahan azab yang lebih dahsyat, berkata Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ:

لَهُمْ عَذَابٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَقُّ ۖ وَمَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَاقٍ

"Mereka mendapat azab dalam kehidupan dunia dan azab akhirat pasti lebih dahsyat. Dan tidak ada bagi mereka pelindung dari Allâh." [Surat Ar-Ra'd: 34].

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada malam Rabu 11 Sya'bân 1440 / 17 April 2019 di Mutiara Gading Timur Bekasi. 

⛵️ http://t.me/majaalisalkhidhir

KEBUTUHAN UMAT TERHADAP RAHMAT DAN KASIH SAYANG ALLÂH


Allâh mengetahui keadaan kita sebagai umat yang lemah dalam menghadapi berbagai cobaan, kita tidak seperti umat-umat terdahulu yang mereka kuat dan penuh kesabaran dalam menghadapi berbagai cobaan. Oleh karena itu hendaklah kita memohon kepada-Nya:

رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَیۡنَاۤ إِصۡرࣰا كَمَا حَمَلۡتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِنَاۚ 
رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦۖ وَٱعۡفُ عَنَّا وَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَاۤۚ 

"Wahai Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak sanggup memikulnya. Beri maaflah kepada kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami." 
[Surat Al-Baqarah: 286].

http://t.me/majaalisalkhidhir

Selasa, 03 Maret 2020

ORANG YANG ENGGAN DARI MEMPELAJARI ILMU


Hanyalah orang yang mampu mempelajari ilmu adalah orang tidak pemalu dan tidak sombong, berkata Mujahid Rahimahullâh:

لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْيٍ وَلاَ مُسْتَكْبِرٌ

"Tidaklah orang yang pemalu mempelajari ilmu dan tidak pula orang yang sombong."

Al-Imâm Al-Bukhârî Rahimahullâh menyebutkan atsar ini di dalam "Shahîh"nya setelah beliau katakan:

بَابُ الْحَيَاءِ فِي الْعِلْمِ

"Bâb malu tentang ilmu."

Fâidah dari kajian Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada malam Sabtu tanggal 5 Rajab 1441 / 29 Februari 2020 di Mutiara Gading Timur Bekasi.

http://t.me/majaalisalkhidhir