Kamis, 20 Februari 2020

HAKEKAT PEREKOMENDASIAN DAN PEMBERIAN IJÂZAH


Berkata Al-Imâm As-Suyûthî Rahmatullâh 'Alainâ wa 'Alaih:

الإِجَازَةُ مِنَ الشَّيخِ غَيرُ شَرطٍ فِي جَوَازِ التَّصَدِّي لِلإِقرَاءِ وَالإِفَادَةِ فَمَن عَلِمَ مِن نَفسِهِ الأَهلِيَّةَ جَازَ لَهُ ذٰلِكَ وَإِن لَم يَجُزْهُ أَحَدٌ، وَعَلَى ذٰلِكَ السَّلَفُ الأَوَّلُونَ وَالصَّدرُ الصَّالِحُ وَكَذٰلِكَ فِي كُلِّ عِلمٍ وَفِي الإِقرَاءِ وَالإِفتَاءِ خِلَافًا لِمَا يَتَوَهَّمُهُ الأَغبِيَاءُ مِنَ اعتِقَادِ كَونِهِ شَرطًا، وَإِنَّمَا اصطَلَحَ النَّاسُ عَلَى الإِجَازَةِ لِأَنَّ أَهلِيَّةَ الشَّخصِ لَا يَعلَمُهَا غَالِبًا مَن يُرِيدُ الأَخذَ عَنهُ مِنَ المُبتَدِئِينَ وَنَحوِهِم لِقُصُورِ مَقَامِهِم عَن ذٰلِكَ، وَالبَحثُ عَنِ الأَهلِيَّةِ قَبلَ الأَخذُ شَرطٌ فَجُعِلَتِ الإِجَازَةُ كَالشَّهَادَةِ مِنَ الشَّيخِ لِلمَجَازِ بِالأَهلِيٌّةِ.2

"Ijâzah dari guru itu bukanlah syarat tentang kebolehan tampil untuk mengajar dan memberi fâidah ilmu, barangsiapa mengetahui pada dirinya berkapasitas maka boleh baginya untuk mengajar dan memberi fâidah ilmu meskipun tidak seorangpun yang membolehkannya, itulah yang ditempuh oleh Salaf para pendahulu dan orang-orang shâlih terkemuka. Demikian pula pada setiap ilmu dan mengajarkan ilmu serta dalam berfatwâ, berbeda dengan apa yang keliru padanya orang-orang bodoh yang meyakini itu sebagai syarat. Sesungguhnya manusia mempopulerkan tentang ijâzah karena keahlian seseorang kebanyakan tidak diketahui oleh orang yang menginginkan untuk mengambil ilmu darinya, baik para pemula dan yang semisal mereka karena keterbatasan pengetahuan mereka tentangnya. Mencari tentang keahlian sebelum mengambil ilmu merupakan syarat maka dijadikanlah ijâzah semisal persaksian dari guru itu sebagai majâz terhadap keahliaan."

Fâidah dari Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir di Mutiara Gading Timur pada hari Rabu 12 Muharram 1441 / 11 September 2019).

⛵️ http://t.me/majaalisalkhidhir

Rabu, 19 Februari 2020

GURU-GURU AL-USTÂDZ MUHAMMAD AL-KHIDHIR YANG TELAH WAFAT


Pertanyaan:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh berguru kepada siapa saja?

Jawaban:
Guru-guru beliau sangat banyak, di antara guru-guru beliau yang telah wafat adalah:
✔️ Al-Ustâdz Abul 'Abbâs Harmîn bin Salîm Al-Limbôrî.
✔️ Asy-Syaikh Abû 'Abdirrazzâq Riyâdh Ar-Radfânî. 
✔️ Asy-Syaikh Abû 'Abdillâh Ma'mûn Adh-Dhâli'î. 
✔️ Asy-Syaikh Abû Usâmah 'Âdil As-Siyâghî.
✔️ Asy-Syaikh Abû 'Abdillâh Kamâl Al-Adnî.
✔️ Asy-Syaikh Sa'îd bin Da'âs Al-Yâfi'î.
✔️ Asy-Syaikh Abû Hafsh 'Umar Al-Iraqî.
✔️ Asy-Syaikh Abû Basyîr Muhammad Al-Hajûrî.
✔️ Asy-Syaikh 'Abdurrahmân bin Mar'î Al-Adnî Rahmatullâh 'Alaihim. 

BELAJAR DARI KENYATAAN


Pertanyaan:
'Afwân Ustâdz, apakah boleh seorang Ustâdz mempermasalahkan sebutan syaikh kepada seorang Ustâdz lain, karena Ustâdz tersebut teman seperguruan dan karena yang menyebutnya syaikh juga teman-temannya dari syaikh-syaikh baru?

Jawaban:
Kalau seseorang sudah dijuluki dengan suatu julukan yang biasa berlaku sesuai kebiasaan masyarakat maka julukan tersebut tidaklah masalah, tidak mengapa kita tetapkan julukan tersebut sebagaimana yang ditetapkan oleh masyarakat sesuai dengan kebiasaan mereka, dahulu setiap qabîlah itu memiliki tokoh, mereka menetapkan julukan sayyid pada tokoh mereka, dan Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam tidak mengingkari penetapan mereka, bahkan beliau pernah berkata kepada kaum Anshâr:

قُومُوا إِلَى سَيِّدِكُمْ أَوْ خَيْرِكُمْ

"Berdirilah kalian kepada sayyid kalian atau orang terbaik kalian."

Sayyid sebagai julukan pada tokoh tertentu, Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam menyebut pula sebutan sayyid, karena itu termasuk dari tatakrama bermasyarakat. Demikian pula syaikh sebagai julukan untuk tokoh tertentu, baik untuk pemuka masyarakat atau untuk orang berilmu. 
'Alî bin Abî Thâlib Radhiyallâhu 'Anhu berkata kepada Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam tentang ayahnya selaku pemuka masyarakat:

 إِنَّ عمَّكَ الشيخَ الضالَّ قدْ ماتَ

"Sesungguhnya pamanmu syaikh yang sesat telah mati."

Berkata Abû Sa'îd Al-Khudrî tentang Abû Bakr Ash-Shiddîq Radhiyallâhu 'Anhumâ selaku orang yang lebih berilmu:

فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقُلْتُ فِي نَفْسِي مَا يُبْكِي هَذَا الشَّيْخَ

"Lalu menangis Abû Bakr Radhiyallâhu 'Anhu, aku berkata di dalam hatiku: Apa yang membuat syaikh ini menangis."

Ketika ada orang ditetapkan oleh masyarakat sebagai syaikh mereka hingga orang tersebut masyhur dengan julukan syaikh maka tidak mengapa kita menyebutnya dengan syaikh. Kita katakan demikian bukan berarti supaya kita disebut syaikh karena sebagian kawan yang bertamu dan yang istifâdah di majaalis kita menyeru kita dengan seruan syaikh, dan kita katakan demikian juga bukan karena menyanjung orang yang di syaikh-syaikhkan, namun itulah kenyataan yang sulit mengingkarinya. 
Dahulu Ja'far 'Umar Thâlib Rahmatullâh 'Alainâ wa 'Alaih ketika ke Dârul Hadîts Dammâj beliau disebut oleh kawan-kawannya sebagai syaikh, dan Al-Imâm Muqbil bin Hâdî Al-Wâdi'î Rahimahullâh tidak mengingkari apa yang mereka sebutkan, bahkan di dalam surat Al-Imâm Muqbil bin Hâdî Al-Wâdi'î Rahimahullâh yang tertanggal 28 Rabî'uts Tsânî 1421 tertuliskan:

الْآخُ الْفَاضِلُ الشَّيخُ جَعْفَرُ بْنُ عُمَرَ بْنِ طَالِبٍ وَإِخْوَانُهُ الْأَجِلَّاءُ مِنْ إِخْوَانِنَا أَهْلِ السُّنَّةِ، وَالشَّيخُ جَعْفَرُ وَبَعْضُ إِخْوَانِهِ مِنْ طُلَّابِنَا

"Saudara yang utama Asy-Syaikh Ja'far bin 'Umar bin Thâlib dan saudara-saudaranya yang mulia termasuk saudara-saudara kita Ahlussunnah, Asy-Syaikh Ja'far dan sebagian saudara-saudaranya termasuk dari murid-murid kita."

Sangat mungkin akan ada yang katakan, ini Ja'far 'Umar Thâlib lagi yang disebut, kalau bukan beliau Rahimahullâh maka bukankah banyak yang selain beliau dijuluki syaikh, ada sebagian guru sekolah, lalu menuntut ilmu di Dârul Hadîts Dammâj kemudian keluar dakwah hingga masyhur disebut syaikh, dan itu diakui pula. Dengan demikian mengingkari sebutan syaikh kepada seseorang itu sama halnya mengingkari kenyataan. 

Banî Isrâîl pada zaman dahulu menetapkan bahwa di kalangan mereka ada 'Úlamâ, penyebutan 'Úlamâ di antara sesama mereka itu sesuai kebiasaan dan kenyataan di kalangan mereka, dan penyebutannya telah ada di dalam Al-Qur'ãn:

أَوَلَمۡ یَكُن لَّهُمۡ ءَایَةً أَن یَعۡلَمَهُۥ عُلَمَـٰۤؤُا۟ بَنِیۤ إِسۡرَ ٰ⁠ۤءِیلَ

"Apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para 'Úlamâ Banî Isrâîl mengetahuinya?." [Surat Asy-Syu'arâ: 197].

Mengingkari adanya penetapan 'Úlamâ di kalangan Banî Isrâîl itu sama halnya mengingkari kenyataan, sebagaimana mengingkari suatu julukan yang telah ada pada seseorang itu sama halnya mengingkari kenyataan.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh pada malam Kamis 25 Jumâdal Ãkhirah 1441 / 19 Februari 2020 di Mutiara Gading Timur Bekasi.

http://t.me/majaalisalkhidhir

Selasa, 18 Februari 2020

KESUNGGUHAN KUNCI KEBERHASILAN


Belajar bahasa Arab membutuhkan kepada kesungguhan dan keseriusan, siapa yang bersungguh-sungguh dalam mempelajarinya maka dia akan menguasainya:

مَنْ جَدَّ وَجَدَ

"Barangsiapa bersungguh-sungguh maka dia dapat."

Fâidah kajian Durûsullughah Al-'Arabiyyah bersama Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh.

http://t.me/durusullughahalarabiyyah

BAKTIMU KEPADA KEDUA ORANG TUAMU BERPENGARUH TERHADAP TAUHÎDMU


Pertanyaan:
'Afwân Ustâdz mau tanya tentang pergi menuntut ilmu tapi meninggalkan orang tua wanita yang berusia 67 tahun, mana yang lebih utama sedangkan di zaman sekarang dimana fitnah yang semakin banyak?. 

Jawaban:
Amalan yang paling utama bagi seseorang adalah mentauhidkan Allâh dan berbakti kepada kedua orang tua, berkata Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًاۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا 

"Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orangtuamu, jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam penjagaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya dengan ucapan yang baik." (Al-Isrâ': 23).

Pada ayat ini Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua setelah perintah mentauhidkan-Nya, ini sebagai dalil yang paling jelas tentang keutamaannya. 

Orang yang membiarkan orang tuanya sedangkan orang tuanya memerlukan baktinya, dia membiarkannya dengan alasan pergi menuntut ilmu maka kita sangat  mengkhawatirkan orang ini akan menjadi orang merugi, dia tidak akan memperoleh ilmu dengan baik, kalau pun dia memperoleh ilmu maka tidak akan bermanfaat baginya atau bahkan akan menjadi hujatan atas dirinya, karena Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam telah katakan:

وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا

"Al-Qur'ãn adalah hujat bagimu atau hujat atasmu, setiap manusia berusaha, maka ada orang yang menjual dirinya sehingga membebaskannya atau menghancurkannya."

Ibnu Abî Dunyâ meriwayatkan dari Abû Ishâq Al-Fazarî bahwasanya beliau menyebutkan kepada Ibnul Mubârak tentang seorang temannya yang telah mengumpulkan ilmu lebih banyak darinya. Ketika akan mati, dikatakan kepadanya untuk mengucapkan kalimat Tauhîd maka orang tersebut terasa sangat berat untuk mengucapkannya hingga tidak mengucapkannya, ketika ada orang lain mengajaknya berbicara dengan suatu pembicaraan maka ringan baginya untuk berbicara, lalu dia mati di atas pembicaraannya yang bukan mengucapkan kalimat Tauhîd. Ditanyakan tentang apa yang menjadi penyebab sampai orang tersebut berat mengucapkan kalimat Tauhîd, ternyata penyebabnya karena dia tidak berbakti kepada orang tuanya, penyebabnya karena dia durhaka kepada orang tuanya. 

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir pada tanggal 16 Jumâdal Ãkhirah 1439 di Kemang Pratama Bekasi. 

⛵ https://t.me/majaalisalkhidhir

KEUTAMAAN BERCAMPUR BAUR DENGAN MANUSIA DAN BERSABAR ATAS GANGGUAN MEREKA


📱 Pertanyaan:
Mana yang lebih utama menyendiri atau tetap sabar dengan lingkungan yang banyak fitnahnya? Jazâkallâhu khairan wa Bârakallâhu fîk. 

📲 Jawaban:
Orang yang bersabar di lingkungan yang banyak fitnah dan banyak kerusakan itu lebih utama daripada dia menyendiri, berkata Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam:

 ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳُﺨَﺎﻟِﻂُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻭﻳَﺼْﺒِﺮُ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﺫَﺍﻫُﻢْ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻻَ ﻳُﺨَﺎﻟِﻂُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ، ﻭَﻻَ َﻳَﺼْﺒِﺮُ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﺫَﺍﻫُﻢْ 

"Orang beriman yang bercampur dengan manusia dan dia sabar terhadap gangguan mereka itu lebih baik daripada orang yang tidak bercampur dengan manusia dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka."

Dengan keberadaannya di tengah masyarakat maka kebaikan dan perbaikan darinya akan tetap ada, apalagi kalau dia termasuk dari Ahlussunnah tentu akan melakukan perbaikan walaupun keberadaannya di tengah-tengah masyarakat dianggap asing, karena di dalam suatu hadits telah ada penjelasan tentang orang-orang yang dianggap asing, yaitu:

ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻳُﺼْﻠِﺤُﻮْﻥَ إِذَا فَسَدَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ

"Orang-orang yang melakukan perbaikan ketika manusia telah rusak." Wallâhu A'lam. 

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada tanggal 18 Jumadal Akhirah 1439 di Kemang Pratama Bekasi. 

⛵ https://t.me/majaalisalkhidhir

PEMUDA-PEMUDA LIMBORO YANG SEMPAT MENUNTUT ILMU DI DÂRUL HADÎTS YAMAN


Pertanyaan:
Benarkah di desa Ustâdz Muhammad Al-Khidhir ada banyak dâ'î alumni Dârul Hadîts Yaman?

Jawaban:
Ada beberapa orang saja dari kampung Limboro yang sempat menuntut ilmu di Dârul Hadîts Yaman, mereka semua memiliki hubungan kekeluargaan, yaitu:
1). Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir.
2). Al-Ustâdz Abul Hasan 'Umair bin Salîm (adik kandung Al-Khidhir).
3). Al-Ustâdz Sa'id bin Muhammad (sepupu Al-Khidhir).
4). Al-Ustâdz Abû Muhammad Anas (adik kandung Al-Khidhir).
5). Al-Ustâdz Nurdîn Al-Limbôrî (sepupu Al-Khidhir).