Kamis, 15 Oktober 2020

KETENANGAN YANG BERKESINAMBUNGAN


Pertanyaan:
Ustâdz apakah tepat kita memulai hafalan Al-Qur'ãn dari surah Al-Baqarah terlebih dahulu dan sambil diselingkan hafalan Juz 'Amma? Karena saya memulai hafalan dari surah Al-Baqarah dan Juz 'Amma hanya dimurâja'ah saja waulupun tidak hafal sebagian.  Mana yang lebih baik bagi saya Ustâdz dan apa nasehat Ustâdz bagi orang yang enggan atau dia futur dari menghafal Al-Qur'ãn? Mohon faedahnya.

Jawaban:
Hendaklah bagi yang menghafal Al-Qur'ãn memulai hafalannya dengan yang termudah baginya dalam menghafalnya, berkata Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ:

فَٱقۡرَءُوا۟ مَا تَیَسَّرَ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ

"Bacalah oleh kalian terhadap apa yang mudah dari Al-Qur'ãn." 
Masih dalam kelanjutan ayat ini, Allâh 'Azza wa Jalla katakan pula:

فَٱقۡرَءُوا۟ مَا تَیَسَّرَ مِنۡهُ

"Maka bacalah oleh kalian terhadap apa yang mudah dari Al-Qur'ãn." [Surat Al-Muzzammil: 20].
Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam tatkala memulai menghafal Al-Qur'ãn dari mengikuti bacaan Jibrîl 'Alaihish Shalâtu was Salâm, beliau dibacakan bukan satu surat penuh, namun dibacakan beberapa ayat dari permulaan surat Al-'Alaq, ini bertujuan supaya lebih mudah dibaca dan dihafal:

وَقَالَ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ لَوۡلَا نُزِّلَ عَلَیۡهِ ٱلۡقُرۡءَانُ جُمۡلَةࣰ وَ ٰ⁠حِدَةࣰۚ كَذَ ٰ⁠لِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِۦ فُؤَادَكَۖ وَرَتَّلۡنَـٰهُ تَرۡتِیلࣰا

"Berkata orang-orang kâfir: Mengapa Al-Qur’ãn itu tidak diturunkan kepadanya dengan sekali turun saja?" Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartîl (teratur)." [Surat Al-Furqân: 32].
Dan yang dapat kita nasehatkan, hendaklah kita menyibukkan diri dengan Al-Qur'ãn pada setiap memasuki hari kita dan melewatinya, dengan sebab itu kita akan selalu mendapatkan petunjuk dan meraih ketenangan yang berkesinambungan:

إِنَّ هَـٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ یَهۡدِی لِلَّتِی هِیَ أَقۡوَمُ وَیُبَشِّرُ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ ٱلَّذِینَ یَعۡمَلُونَ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ أَنَّ لَهُمۡ أَجۡرࣰا كَبِیرࣰا

"Sesungguhnya Al-Qur’ãn ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman yang mengerjakan amal shâlih bahwa bagi mereka pahala yang besar." [Surat Al-Isrâ': 9].

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir pada hari Rabu 14 Oktober 2020 / 26 Shafar 1442 di Dârul Qur'ãn wal Hadîts Bekasi.

Sabtu, 10 Oktober 2020

SEBAB-SEBAB MERAIH KETENANGAN DAN KETENTERAMAN


1. Bertaqwâ dan beriman. 
Berkata Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ:

فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِینَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِینَ وَأَلۡزَمَهُمۡ كَلِمَةَ ٱلتَّقۡوَىٰ وَكَانُوۤا۟ أَحَقَّ بِهَا وَأَهۡلَهَاۚ 

"Lalu Allâh menurunkan ketenangan kepada Rasûl-Nya, dan kepada orang-orang beriman, Allâh mewajibkan kepada mereka kalimat taqwâ, keberadaan mereka berhak dengan kalimat taqwâ itu dan patut memilikinya." [Surat Al-Fath: 26]. 

2. Bertauhîd
Berkata Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ:

ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan suatu kezhaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." [Surat Al-An'âm: 82].
Kezhaliman yang dimaksud pada ayat adalah kesyirikan, Al-Bukhârî dan Muslim telah meriwayatkan:

عَنْ وَكِيعٍ عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ: {الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ} شَقَّ ذَلِكَ عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالُوا أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ هُوَ كَمَا تَظُنُّونَ إِنَّمَا هُوَ كَمَا قَالَ لُقْمَانُ لاِبْنِهِ: يَا بُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

"Dari Wakî' dari Al-A'masy dari Ibrâhîm dari 'Alqamah dari 'Abdullâh (yakni Ibnu Mas'ûd), beliau berkata: "Tatkala turun ayat: "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan suatu kezhaliman." Merasa berat atas itu para Shahabat Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam, mereka berkata: "Siapa di antara kami yang tidak menzhalimi dirinya?." Berkata Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam: "Bukanlah itu seperti yang kalian sangka, akan tetapi itu seperti yang dikatakan oleh Luqmân kepada puteranya: "Wahai puteraku janganlah kamu menyekutukan Allâh, karena menyekutukan Allâh benar-benar kezhaliman yang besar."

3. Taat dan patuh kepada Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam.
Berkata Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ:

لَّقَدۡ رَضِیَ ٱللَّهُ عَنِ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ إِذۡ یُبَایِعُونَكَ تَحۡتَ ٱلشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِی قُلُوبِهِمۡ فَأَنزَلَ ٱلسَّكِینَةَ عَلَیۡهِمۡ وَأَثَـٰبَهُمۡ فَتۡحࣰا قَرِیبࣰا

"Sesungguhnya Allâh telah ridhâ terhadap orang-orang beriman ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, Allâh mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat waktunya." [Surat Al-Fath: 18].

4. Menjauhi ketidaktenangan dan tempat-tempatnya.
Berkata Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam:

سَتَكُونُ فِتَنٌ الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ، وَالْقَائِمُ خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي، وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي، مَنْ تَشَرَّفَ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ، فَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ

"Akan ada berbagai macam fitnah, orang yang duduk padanya itu lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri itu lebih baik daripada orang yang berjalan, orang yang berjalan padanya itu lebih baik daripada orang yang berlari. Orang yang mendekat kepadanya maka dia akan terjerumus ke dalamnya, barangsiapa mendapati tempat bernaung atau tempat berlindung maka hendaklah dia berlindung darinya." Riwayat Al-Bukhârî.

5. Mencari ilmu.
Berkata Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu maka Allâh memudahkannya baginya jalan menuju Surga, dan tidaklah berkumpul suatu kaum di suatu rumah dari rumah-rumah Allâh, mereka membaca Kitâbullâh dan saling mengajarkannya kecuali Allâh akan turunkan ketenangan kepada mereka, Dia akan melimpahkan rahmat kepada mereka, para malaikat akan menaungi mereka dan Allâh akan menyebut-nyebut mereka ke siapa saja yang ada di sisi-Nya." Riwayat Muslim. 

6. Bertanya kepada orang berilmu
Cukup kisah pembunuh 100 jiwa sebagai pelajaran, bahwasanya dirinya tidak merasa tenang karena dosa besarnya membunuh 100 jiwa, hingga beliau bertanya kepada orang berilmu. Dengan sebab itu beliau memperoleh ketenangan dan mendapatkan ampunan, kemudian khatîb (yakni Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir) menceritakan kisahnya yang diriwayatkan oleh Al-Bukhârî dan Muslim. 
Berkata Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ:

فَسۡـَٔلُوۤا۟ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

"Maka bertanyalah kalian kepada orang-orang berilmu jika kalian tidak mengetahui." [Surat An-Nahl: 43]. 
Dan Berkata Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ:

وَإِذَا جَاۤءَهُمۡ أَمۡرࣱ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُوا۟ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰۤ أُو۟لِی ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِینَ یَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗ

"Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, lalu mereka menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasûl dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya dapat mengetahuinya dari Rasûl dan Ulil Amri itu." [Surat An-Nisâ': 83]. 

7. Berdzikir.
Berkata Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ:

ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَتَطۡمَىِٕنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَىِٕنُّ ٱلۡقُلُوبُ

"Orang-orang yang beriman dalam keadaan tenang hati mereka karena berdzikir kepada Allâh, ketahuilah hanya dengan berdzikir kepada Allâh hati menjadi tenang." [Surat Ar-Ra'd: 28].

Diringkas dari khutbah Jum'at Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada 23 Shafar 1442 / 9 Oktober 2020 di Masjid Al-Kautsar Kp Tenggilis Mustikajaya Bekasi.

Minggu, 13 September 2020

MENGETAHUI KEBENARAN DAN MENGAMALKANNYA

Tidak mau tahu tentang kebenaran atau berpaling dari kebenaran, berakibat mendapatkan kesempitan dada atau kesempitan hidup, berkata Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ:

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِی فَإِنَّ لَهُۥ مَعِیشَةࣰ ضَنكࣰا وَنَحۡشُرُهُۥ یَوۡمَ ٱلۡقِیَـٰمَةِ أَعۡمَىٰ

"Barangsiapa berpaling dari kitâb-Ku maka sungguh baginya penghidupan yang sempit dan pada hari Kiamat kami akan menghimpunnya pada hari Kiamat dalam keadaan buta." [Surat Tha-Ha 124]. 
Sedangkan berupaya untuk mengetahui kebenaran lalu mengamalkannya, maka akan mendapatkan ujian yang setelahnya akan memperoleh kekokohan dan kebaikan, berkata Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

"Barangsiapa yang Allâh inginkan kebaikan kepadanya maka Allâh akan memberikan ujian kepadanya." Riwayat Al-Bukhârî.

Fâidah dari Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada malam Senin tanggal 26 Muharram 1442 / 14 September 2020 di Dârul Qur'ãn wal Hadîts Bekasi.

Senin, 17 Agustus 2020

UNTUKMU PARA PEMUDA-PEMUDI MUSLIM


Fitrah seorang pria adalah butuh terhadap wanita, kesempurnaan dan kebahagian hidup yang dia peroleh akan terasa kurang bila tanpa ada wanita yang menjadi pendamping hidupnya. Dahulu ayah kita Ãdam 'Alaihish Shalâtu was Salâm dalam keadaan paling sempurna, beliau hidup di dalam Surga yang penuh keni'matan, namun ternyata beliau membutuhkan pula pendamping hidup yaitu ibu kita Hawâ Radhiyallâhu 'Anhâ, berkata Allâh 'Azza wa Jalla kepada Ãdam 'Alaihish Shalâtu was Salâm:

وَقُلۡنَا یَـٰۤـَٔادَمُ ٱسۡكُنۡ أَنتَ وَزَوۡجُكَ ٱلۡجَنَّةَ وَكُلَا مِنۡهَا رَغَدًا حَیۡثُ شِئۡتُمَا 

"Kami berkata: "Wahai Ãdam, menetaplah kamu dan isterimu di dalam Surga, dan makanlah dari  makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai." [Surat Al-Baqarah: 35].

Dari nasehat Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada hari Selasa pagi 28 Dzulhijjah 1441 / 18 Agustus 2020 di Maktabah Al-Khidhir Bekasi untuk saudara-saudarinya para pemuda-pemudi Muslim.




Kamis, 13 Agustus 2020

TEMPAT DOA ISTIKHÂRAH

Pertanyaan:
Apakah doa shalat istikhârah itu dibaca setelah rukû sebagaimana doa qunut witir? 

Jawaban:
Doa istikhârah dibaca setelah salâm, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadîts yang diriwayatkan oleh Al-Bukhârî dari Jâbir bin 'Abdillâh 'Anhumâ:

فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ يَقُولُ

"Hendaklah dia shalat dua raka’at kemudian dia mengucapkan doa..."
Ini menunjukkan bahwa pembacaan doanya setelah pelaksanaan shalat dua raka'at tersebut.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada hari Jum'at 24 Dzulhijjah 1441 / 14 Agustus 2020 di Maktabah Al-Khidhir Bekasi.

Rabu, 12 Agustus 2020

MENYOAL PERAYAAN MAULID


Pertanyaan:
Ustâdz, apa keutamaan merayakan maulid?

Jawaban:
Tidak ada keutamaan pada perayaan maulid, yang ada keutamaannya adalah puasa pada hari Senin yang merupakan hari kelahiran Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam, beliau berkata tentang puasa hari Senin:

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ

"Itu adalah hari yang aku dilahirkan padanya." Riwayat Al-Bukhârî dari Abû Qatâdah Al-Anshârî Radhiyallâhu 'Anhu.

Adapun perayaan maulid maka itu tidak ada dalilnya, bahkan itu merupakan pengikutan terhadap ajaran yang dibuat oleh 'Ubaidullâh bin Maimûn Al-Qaddâh, kakeknya adalah Yahûdî, lalu dia menisbatkan dirinya secara dusta bahwa dia termasuk Ahlul Bait, kemudian mengaku sebagai Imam Mahdî, yang hakekatnya dia ini adalah pimpinan sekte Bathiniyyah, telah berkata Ibnu Katsîr Rahimahullâh tentang orang ini:

ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻳَﻬُﻮْﺩِﻳًّﺎ، ﻓَﺪَﺧَﻞَ ﺑِﻼَﺩَ ﺍﻟْﻤَﻐْﺮِﺏِ ﻭَﺗُﺴَﻤَّﻰ ﺑِﻌُﺒَﻴْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﻭَﺍﺩَّﻋَﻰ ﺃَﻧَّﻪُ ﺷَﺮِﻳْﻒُ ﻋَﻠْﻮِﻱٍّ ﻓَﺎﻃِﻤِﻲٍّ، ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻋَﻦْ ﻧَﻔْﺴِﻪِ ﺇِﻧَّﻪُ ﺍﻟْﻤَﻬْﺪِﻱُّ

"Dahulunya dia adalah Yahûdî, lalu dia datang ke negri Maghribi kemudian dia menamai dirinya dengan 'Ubaidullâh, dia mengaku bahwa dirinya adalah Syarîf 'Alwî Fâthimî. Dan dia berkata tentang dirinya bahwasanya dia adalah Al-Mahdî."

Dialah yang mengadakan acara maulid, karena sudah menjadi kebiasaan orang-orang Yahûdî, bila mereka kagum terhadap suatu hari maka mereka adakan sebagai hari raya, orang-orang Yahûdî di zaman Amîrul Mu'minîn 'Umar Ibnul Khaththâb Radhiyallâhu 'Anhu pernah berkata:

يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ لَوْ أَنَّ عَلَيْنَا نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ: الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا لاَتَّخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ عِيدًا

"Wahai Amîrul Mu'minîn kalau seandainya ayat ini turun kepada kami: "Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku cukupkan bagi kalian nikmat-Ku serta Aku ridhai Islâm sebagai agama kalian." Sungguh kami akan jadikan hari tersebut sebagai hari raya."
Maka Amîrul Mu'minîn 'Umar Ibnul Khaththâb Radhiyallâhu 'Anhu berkata:

إِنِّي لأَعْلَمُ أَيَّ يَوْمٍ نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ، نَزَلَتْ يَوْمَ عَرَفَةَ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ

"Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui hari turunnya ayat ini, yaitu turun pada hari 'Arafah pada hari Jum'at." Riwayat Al-Bukhârî. 

Allâh Tabâraka wa Ta'âlâ turunkan bertepatan dengan hari raya Islâm, yaitu hari Jamâ'ah haji berkumpul di 'Arafah pada hari Jum'at. 

Ikhwânî Fiddîn Rahimahumullâh, apa yang dibuat dan diada-adakan oleh anak Yahûdî 'Ubaidullâh bin Maimûn Al-Qaddâh benar-benar diikuti oleh sebagian manusia pada umat ini, padahal jelas tujuannya untuk merubah dan menjadikan agama ini semisal dengan agama mereka yang mereka telah memberikan banyak tambahan kepada agama mereka, di kalangan mereka ada acara kelahiran nabi mereka, ada acara kelahiran 'Îsâ Al-Masîh dan acara-acara lainnya. Oleh karena itu kita ingatkan kembali kepada setiap orang muslim bahwa Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ telah katakan:

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

"Orang-orang Yahudi dan Nashârâ tidak akan suka kepadamu sampai kamu mengikuti agama mereka." [Surat Al-Baqarah: 120].

Dijawab oleh: 
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir pada hari Selasa 19 Rabî'ul Awwal 1440 / 27 November 2018. 

⛵️ http://alkhidhir.com/aqidah/menyoal-perayaan-maulid/
⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/2318



Jumat, 07 Agustus 2020

HUBUNGAN KEKERABATAN ANTARA USTÂDZ SA'ÎD AL-LIMBÔRÎ DENGAN AL-KHIDHIR


Pertanyaan:
Ada Ustâdz di Riau, nisbahnya juga Al-Limbôrî, Ustâdz Sa'îd namanya, apakah Syaikh Muhammad kenal beliau?

Jawaban:
Beliau masih memiliki hubungan kekerabatan dengan kami. Buyut ayahnya menikah dengan buyut ayah kami. Adapun beliau adalah Sa'îd bin Muhammad Kudto bin Wa 'Atimah bintu Wa Sumaini. Sedangkan kami adalah Muhammad Al-Khidhir bin Salîm bin Siti Hâwiyah bintu La Bisana.
Buyut ayahnya Wa Sumaini adalah seorang janda yang memiliki seorang anak bernama Wa 'Atimah. Kemudian buyut ayah kami La Bisana menikah dengan Wa Sumaini, dari pernikahan keduanya lahirlah Siti Hâwiyah ibu ayah kami.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada malam Sabtu 18 Dzulhijjah 1441 / 8 Agustus 2020 di Maktabah Al-Khidhir Bekasi.