Selasa, 17 Maret 2020

SEMANGAT BERJAMÂ'AH SELAGI VIRUS CORONA BELUM GANAS

Ustâdz, apakah keadaan seperti sekarang ini yang virus Corona terus menyebar menjadi boleh meninggalkan shalat berjamâ'ah dan meninggalkan Jum'atan? 

Jawaban:
Shalat berjamâ'ah dan jum'atan tidak akan terlaksana bila tanpa ada jamâ'ah. Oleh karena itu selagi masih ada jamâ'ah, hendaklah seseorang tetap mendatangi shalat berjamâ'ah dan tetap mengikuti Jum'atan, hendaklah kita memanfaatkan kesempatan ini, karena kita tidak tahu bisa jadi beberapa masa yang akan datang wabah semisal virus Corona ini akan semakin ganas dan semakin menyebar luas sehingga membuat jamâ'ah tidak lagi ada yang mampu mendatangi shalat berjamâ'ah dan Jum'atan. Hendaklah kita manfaatkan kesempatan ini, demikian pula menghadiri majlis ilmu, selagi masih bisa hadir maka hadiri, kita tidak tahu apakah beberapa masa ke depan masih bisa kita hadir. Jangan kita mengira bahwa kita hanya berhadapan dengan wabah virus Corona, bisa jadi di balik wabah ini kita akan berhadapan dengan peperangan yang sebenarnya:

نَسْأَلُ اللّٰهَ السَّلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ

"Kita memohon keselamatan dan ampunan kepada Allâh."

Bukankah telah kita ketahui bahwa dahulu di zaman para Shahabat ada wabah Thâ'ûn, bersamaan dengan itu jihâd fî Sabîlillâh tetap juga berjalan, ada di antara Shahabat tidak mendapatkan keutamaan mati syahîd di medan perang namun mendapatkan pahala semisal mati syahîd karena terkena wabah Thâ'ûn, Panglima Besar Abû 'Ubaidah Ibnul Jarrâh Radhiyallâhu 'Anhu memimpin pasukan kaum Muslimîn ketika berada di antara Ramlah dan Baitul Maqdis ternyata wabah Thâ'ûn mengenai beliau, sehingga beliau wafat dengan keutamaan mati syahîd yang disebutkan di dalam hadîts:

الطَّاعُونُ شَهَادَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

"Thâ'ûn adalah mati syahîd bagi setiap muslim." Riwayat Al-Bukhârî dari jalur periwayatan Hafshah bintu Sîrîn dari Anas bin Mâlik dari Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam. 

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada malam Rabu tanggal 23 Rajab 1441 / 18 Maret 2020 di Mutiara Gading Timur Bekasi.

SEBAB PENAMAAN SAFAR SEBAGAI ADZAB


Pertanyaan:

السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ نَوْمَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

"Safar adalah bagian dari azab, yang menghalangi salah seorang di antara kalian pada tidurnya, makannya dan minumnya."
Maksudnya? Kenapa dikatakan sebagai adzab?

Jawaban:
Karena dengan sebab safar, seseorang akan mendapatkan berbagai rasa berat, rasa lelah, letih, kurang tidur, kurang makan, kurang minum dan terpisahkan dengan keluarga. Jadi seakan-akan dia sedang teradzab, oleh karena itu disebutkan di dalam kelanjutan hadîts:

فَإِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ

"Apabila salah seorang di antara kalian telah menyelesaikan keperluannya maka hendaklah dia bersegera kembali ke keluarganya." Diriwayatkan oleh Al-Bukhârî dan Muslim dari Mâlik, dari Sumayyi, dari Abû Shâlih, dari Abû Hurairah Radhiyallâhu 'Anhu, dari Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam.

Imâm Al-Harâmain Rahimahullâh berkata dalam keterangannya terhadap hadîts tersebut:

 لِأَنَّ فِيْهِ فِرَاقَ الْأَحْبَابِ

"Karena sesungguhnya pada safar itu ada perpisahan dengan orang-orang yang dicintai."

Orang yang safar kedudukannya seperti orang yang sedang menderita sakit, apa yang dia hadapi akan memberatkannya, melelahkannya, meletihkannya, membuatnya sedikit tidur, sedikit makan dan sedikit minum serta membuatnya tidak bisa bersenang-senang dengan keluarganya, dengan demikian dianjurkan baginya untuk mengqashar shalat:

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ 

"Jika kalian telah safar dari tempat mukim maka tidak mengapa bagi kalian untuk mengqashar shalat." [An-Nisâ': 101].

Semoga Allâh Subhânahu wa Ta'âlâ memudahkan segala urusan kita, di saat safar atau pun di saat mukim.

Dijawab oleh:

MENCEGAH PENYEBARAN VIRUS CORONA DENGAN TIDAK BERJABAT TANGAN


Pertanyaan:
Ustâdz apakah boleh kita menolak berjabat tangan dengan orang di saat virus Corona sudah menyebar seperti sekarang ini, khawatir tertular ke kita? Karena sebagian teman bilang tidak apa-apa berjabat tangan, kalau sudah ditakdirkan kena virus Corona biar tidak jabat tangan juga tetap kena.

Jawaban:
Amîrul Mu'minîn 'Umar Ibnul Khaththâb Radhiyallâhu' Anhu pernah keluar menuju negeri Syâm tatkala sampai di Sargh maka pasukan yang bersama Abû 'Ubaidah Ibnul Jarrâh Radhiyallâhu 'Anhum menyampaikan kepada beliau bahwasanya wabah telah menyebar di negeri Syâm, setelah bermusyawarah dengan para Shahabat 'Umar memutuskan untuk kembali ke Madînah maka Abû 'Ubaidah Ibnul Jarrâh berkata kepadanya:

أَفِرَارًا مِنْ قَدَرِ اللَّهِ؟

"Apakah kalian akan lari dari takdir Allâh?."
'Umar tidak ingin diselisihi, hingga beliau berkata:

لَوْ غَيْرُكَ قَالَهَا يَا أَبَا عُبَيْدَةَ، نَعَمْ نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ إِلَى قَدَرِ اللَّهِ 

"Kalau seandainya yang mengatakannya bukan engkau wahai Abû 'Ubaidah, iya kami akan lari dari takdir Allâh menuju kepada takdir Allâh."

Ini sebagai nasehat yang mengena bagi siapa yang bergantung kepada takdir dengan tanpa menjalani sebab, kita dinasehatkan untuk mengambil sebab berupa menjauhi wabah atau menghindar darinya. 
Kita telah ketahui bersama bahwa melaksanakan tugas itu suatu tuntutan sebagaimana yang dilakukan oleh Amîrul Mu'minîn 'Umar Radhiyallâhu 'Anhu, beliau ingin berkunjung ke negeri Syâm dan ingin melihat langsung wilayah kekuasaannya namun karena ada wabah maka beliau tidak jadi mewujudkan keinginannya. Demikian pula orang yang ingin berjabat tangan dengan sesama jenis merupakan suatu kebaikan akhlak dan sebagai suatu sunnah namun karena upaya mengantisipasi tersebarnya virus Corona maka berjabat tangan pun diabaikan untuk sementara sampai nanti virus Corona ini lenyap, ini sesuai dengan kaidah:

دَفْعُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِِ الْمَصَالِحِ

"Menolak berbagai kerusakan itu didahulukan daripada mendatangkan berbagai kebaikan."

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada malam Rabu tanggal 23 Rajab 1441 / 18 Maret 2020 di Mutiara Gading Timur Bekasi.

JADIKANLAH HARTA DAN ANAK-ANAK BISA BERMANFAAT DI AKHIRAT


Segala harta yang kita miliki di dunia ini tidak akan berarti dan tidak akan berharga lagi ketika tertimpa bencana atau ketika kematian datang kepada kita, berkata Allâh Tabâraka wa Ta'âlâ:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ * إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

"Pada suatu hari yang tidak bermanfaat lagi harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang kepada Allâh dengan hati yang selamat." [Surat Asy-Syu'arâ: 88-89].

Fâidah kajian Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada hari Rabu 1 Jumâdil Ãkhirah 1440 / 6 Februari 2019 di Kemang Pratama 3 Bekasi. 

Senin, 16 Maret 2020

DUA ORANG YANG BAHAGIA KETIKA VIRUS CORONA MENYEBAR

Dua orang yang paling bahagia di saat virus Corona menyebar: 
Pertama: Orang yang terjauhkan dari virus Corona. 
Kedua: Orang yang tertimpa virus Corona lalu dia bersabar.
Berkata Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam:

إنَّ السعيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الفِتَنَ، إنَّ السعيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الفِتَنَ، إنَّ السعيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الفِتَنَ، ولَمَن ابتُلِيَ فصَبَر فَوَاهًا

"Sesungguhnya kebahagiaan itu bagi siapa yang dijauhkan dari wabah, sesungguhnya kebahagiaan itu bagi siapa yang dijauhkan dari wabah, sesungguhnya kebahagiaan itu bagi siapa yang dijauhkan dari wabah. Dan barangsiapa yang tertimpa wabah lalu dia bersabar maka itu menakjubkan." Riwayat Abû Dâwud dari Al-Muqdâd bin 'Amr Al-Aswad Radhiyallâhu 'Anhu.

Berkata Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam:

لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا، يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ

"Tidaklah dari seseorang yang wabah itu sedang terjadi lalu dia menetap di negerinya dalam keadaan bersabar lagi mengharap pahala, dia mengetahui bahwasanya itu tidak akan menimpanya kecuali sesuai dengan apa yang telah Allâh tetapkan baginya melainkan baginya itu semisal pahala orang yang mati syahîd." Riwayat Al-Bukhârî dari 'Âisyah Radhiyallâhu 'Anhâ.

Fâidah dari Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada hari Selasa tanggal 22 Rajab 1441 / 17 Maret 2020 di Mutiara Gading Timur Bekasi.

DUNIA DI MATA ORANG YANG MENUJU AKHIRAT


مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kalian yang melewati harinya dalam keadaan aman pada jalan hidupnya, sehat pada badannya, dan dia memiliki makanan pada hari tersebut, maka seakan-akan telah diberikan dunia kepadanya.” Riwayat Al-Bukhârî di dalam Al-Adabul Mufrad dan At-Tirmidzî, dari Salamah bin 'Ubaidillâh bin Mihshan Al-Khathmî, dari ayahnya, dari Nabî Shallallâhu 'Alaihi wa Sallam.

Fâidah dari Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra'âh pada hari Kamis 4 Shafar 1441 / 3 Oktober 2019 di Mutiara Gading Timur Bekasi. 

FÂIDAH MENAMPAKKAN DAN MENYEMBUNYIKAN AMALAN


قَالَ ابنُ حَجَرٍ الهَيتَمِيُّ رَحْمَةُ اللّٰهِ عَلَينَا وَعَلَيْهِ: فِي كَتْمِ الْعَمَلِ
 فَائِدَةَ الْإِخْلَاصِ وَالنَّجَاةَ مِنْ الرِّيَاءِ، وَفِي إظْهَارِهِ فَائِدَةَ الِاقْتِدَاءِ وَتَرْغِيبَ النَّاسِ فِي الْخَيْرِ وَلَكِنْ فِيهِ آفَةُ الرِّيَاءِ، وَقَدْ أَثْنَى اللَّهُ عَلَى الْقِسْمَيْنِ فَقَالَ عَزَّ قَائِلًا: إِن تُبۡدُوا۟ ٱلصَّدَقَـٰتِ فَنِعِمَّا هِیَۖ وَإِن تُخۡفُوهَا وَتُؤۡتُوهَا ٱلۡفُقَرَاۤءَ فَهُوَ خَیۡرࣱ لَّكُمۡۚ

Berkata Ibnu Hajar Al-Haitamî semoga rahmat Allâh untuk kita dan untuk beliau: "Dalam menyembunyikan amalan itu membuahkan keikhlasan dan keselamatan dari riyâ'. Dan dalam menampakkan amalan itu memberi faedah penyontohan dan pemotivasian kepada manusia untuk berbuat baik akan tetapi ada padanya wabah riyâ', dan sungguh Allâh telah memuji atas dua kelompok ini, Allâh 'Azza wa Jalla berkata: "Jika kalian menampakkan sedekah-sedekah kalian, maka tentu itu baik. Dan jika kalian menyembunyikannya dalam memberikannya kepada orang-orang miskin, maka menyembunyikan itu lebih baik bagi kaliaan." [Surat Al-Baqarah: 271].

Fâidah dari Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Ayyadahullâh pada kajian hari Kamis 4 Shafar 1441 / 3 Oktober 2019 di Mutiara Gading Timur Bekasi.